BISNIS ONLINEKU...GABUNG Ya....

Sabtu, 26 Juni 2010

Kisah Nala

IGA.Komang.Wiliani

Pepohonan  berkerumun tak teratur, melihat dengan arah mata yang berlepasan ketika satu persatu daunnya jatuh ke tanah.
Suatu hari yang rintik, saat musim hujan terakhir tiba, tak kulihat barisan keranjang yang berisi bunga musim semi di matamu. Aku telah berdiri di tepi-tepi tawamu. Tanganku menutup kepala karena  kecipratan kegembiraanmu. Saat itu udara jadi penuh dengan kisah Nala, apakah ini kisah bahagia?
Dengan tiupannya, udara mengisahkan cerita tentang seorang gadis bernama Nala yang selalu tertidur ketika  yang dikerjakannya baru selesai setengahnya. Ia tak pernah sampai ke tepi tawa. Maka neneknya yang penyabar memberinya sebuah cerita tentang perjalanan bunga musim semi. Ia bercerita bahwa bunga-bunga itu akan melewati tiga musim untuk sampai di tanah datar. Ia harus tetap menjejakkan akarnya di kedalaman agar tahu gerak hujan yang menyusur. Ia akan mengikuti gerak itu dengan menumbuhkan reranting, dalam gerak seirama alir air di akarnya.
Ketika ia bertemu dengan petani, tak pernah bunga itu terburu-buru memekarkan diri. Hanya berlaku mengikuti air, matahari, dan tanah. Dan petani pun tak pernah memaksa bunga untu berlaku seperti dirinya yang tersenyum, bercakap, dan sesekali peduli pada kelopaknya.
Maka, Nala, gadis mungil itu ingin segera bercakap dengan bunga-bunga di ladangnya. Bunga itu memberi isyarat bahwa ia memerlukan air akhir musim hujan. Air itu ia taruh di kantung mata awan yang berwarna-warni. Ia meminta bantuan Nala untuk meneteskannya, setiap kali ingin memekarkan bunga.
Nala pun menangis, mengalirkan air ke ujung daun. Air itu menetes di kayu-kayu yang mengeram pucuk. Mengetuk labirin kambium dan bercakap dengan Nala tentang daun yang dihinggapi burung kolibri yang memintal sarang. Tangis Nala menjadi saat yang paling dinantikan oleh pepohonan.
Maka Nala adalah kisah bahagia ketika tangis baginya adalah tempat istirahat bagi segala penat. Neneknya yang penyabar selalu meminta Nala untuk melanjutkan dongeng yang belum selesai terbacakan. Meminta Nala untuk bertemu dengan teman-teman yang belum pernah ia temui. Maka mimpi adalah jalan menemukan persahabatan antara bunga, Nala, dan kisah bahagia karena bunga mampu membeningkan segala warna air mata dan menyimpannya dalam warna kelopak bunganya.

1 komentar:

  1. Wili memang hebat... semakin hari tulisannya semakin berfilosofi... Saya suka banget.... saya temukan di Bali Post Minggu... waw keren!

    BalasHapus