IGA. Km. Williani
Aku tak mampu menuliskan kisah ini, karena setiap kutulis segala warna dalam huruf-hurufku terserap ke dalam pori-pori kertas. Tak bisa juga kujanjikan untuk menulisnya di kesempatan lain karena setiap kuucap kata, selalu jatuh tetes keringatku dan tanah menyerapnya. Tak ada bukti bahwa aku bersungguh-sungguh. Tak ada bukti kalau aku telah berusaha mengisahkannya. Maka aku berlari saja, menggambar jejak di tanah yang berdebu. Walau sekejap saja, aku berusaha menulisnya dengan kakiku yang lemah. Aku tahu bahwa akan tersapu angin.
Angin akan menata debu itu lagi dalam formasi yang halus, dan kosong. Tanpa ada lukisan, tanpa ada tanda. Lalu aku bergegas pergi, menyusun kesendirianku lagi. Menyusuri kayu-kayu tua yang masih menyerap cahaya. Ada tangkai kecil yang melaju, menembus batang kulit yang menua. Ada dorongan adrenalin untuk menyampaikan warna hijau muda pada kabut pagi yang menipis. Dan kau berdiri di antaranya.
Sementara warna hijau telah menyembul dengan pelannya, aku mengamati tawamu yang susut. Kau bilang ingin sendiri, menatap kota-kota malam dari ketinggian, tak peduli lagi pada derasnya hutan hujan yang menumbuhkan daun, menghalangi pandanganmu. Kubilang, tak mau aku menunggumu lagi. Aku percaya, warna tetumbuhan yang terserap, akan muncul kembali dalam sebait sajak burung-burung pemakan buah, loncatan kecil rubah pemetik kelapa, juga nyanyi sunyi kerisik daun.
Aku percaya, kau juga akan betah mendengar kisahku, tentang dirinya yang tak pernah beranjak pergi dari sisiku. Hanya perlu menajamkan telinga pada kata yang tak pernah diucapkan kerisik daun dan derasnya pepohonan yang meninggi.
0 komentar:
Poskan Komentar