Juara I Tingkat Nasional Depdikbud karya: I Gst Ayu Komang Williani
OPENING
SUARA KENTUNGAN TERDENGAR PELAN DISUSUL DENGAN TEMBANG YANG SAYUP DIDENDANGKAN DARI DESA SEBERANG. KEDUANYA MENGUAT MENJADI NYANYI YANG SALING MENYAHUT, MENUJU DESA SRADA. DESA YANG KENTAL DENGAN DONGENG PRAGINA SEBAGAI PENUNTUN PERUPA DALAM MENCIPTAKAN SAPUAN WARNA. PARA PRAGINA ITU DIPERCAYA MEMBERIKAN TAKSU BAGI YANG TIDAK TERBUDAK OLEH UANG.
DESA INI MASIH MENYISAKAN AROMA SETANGGI. AROMA ITU MENYELUSUP MELEWATI CELAH-CELAH BAMBU. DI SUDUT BILAH UDARA, GARIS SINAR MENYELUSUP DI SELA KAYU KALANCANG PUTIH DARI LENTERA YANG MENGGANTUNG, MENGHEMBUSKAN PERCA UDARA HITAM, MEMFIGURA DI KEPALAN TANAH MERAH.
BABAK I
WAYAN TAGEN IN STAGE
SEORANG LELAKI BERTELANJANG DADA, HANYA TERBALUT KAMBEN BATIK LUSUH, MENGADUK GELISAHNYA DI SEBUAH LESUNG BATU. TANGANNYA YANG BERGELAMBIR, DENGAN CEKATAN MENUMBUK AKAR-AKAR WARNA YANG IA DAPAT DARI POHON BESAR YANG TUMBUH DI PELATARAN PURA DALEM DAN BUNGA-BUNGA YANG KERAP BERTEBARAN DI PINGGIR SUNGAI.
IA KEMUDIAN MENGUCURKAN AIR DI CEKUNG LESUNG, MENGADUK DAN MEMERAS AMPAS AKAR, DAN CAIRAN PEKAT DIBALURKAN DI KAYU PENUMBUK LESUNG SEBAGAI BENIH WARNA.
LAMPU YANG MENERANGI WAYAN TAGEN PADAM.
LAMPU FADE IN UNTUK SILUET. DARI BALIK KAIN PUTIH, SERUPA KANVAS, DI KAIN SILUET ITU, WARNA PERLAHAN-LAHAN MEMBENTUK. SEORANG LELAKI RENTA DENGAN GEMETAR BERUSAHA MENARIK GARIS-GARIS LURUS YANG BERBICARA SENDIRI. IA MELUKIS DARI JARAK YANG JAUH DARI SILUET SEHINGGA BAYANGANNYA TIDAK DAPAT DILIHAT. HANYA KUAS BESAR YANG MENGERAM CAIRAN WARNA YANG MELIUK MELINTANG MEMBENTUK SEBUAH TUBUH. TAPI LUKISAN DIHENTIKAN KETIKA WAJAH INGIN DIBENTUK.
SOUND OUT
Wayan Tagen
Sorot mata diberi watak. Mata putih yang menampung kucuran air perasan merah senja. Sorot mata milik penari lakon Sita yang menari di atas lingkar bumi yang terbungkus aksara. Kata yang membalut tubuh sungsangnya.
Ia berusaha menetaskan kata, setelah usaha mengasuh embrio Kuca dan Lawa, tertatih di tangga sumpah pada bumi.
WAYAN TAGEN KECIL DAN PEKAK SARNA IN STAGE
LAMPU FADE IN (warna senja)
PEKAK Sarna mengajarkan lagu “Dadong Dauh” kepada Wayan Tagen Kecil. Guru Lagu pun didendangkan dengan suara rentanya sambil menggetarkan tubuh angklung.
Pekak Sarna
DADONG DAUH NGELAH SIAP PUTIH, BE METALUH REKO
MINAB ADE, LIMOLAS TALUHNE. NANGING LACUR, ADE NE NEPUKIN, ANAK CERIK-CERIK
ANAK CERIK-CERIK YE KELIWAT RUSIP IPUN.
Wayan Tagen Kecil dengan riang menyanyikan kalimat yang dibaca dari sebuah kertas kumal yang disangga sebuah lesung tempat mereka duduk berhadapan. Tangannya yang mungil menunjuk-nunjuk not lagu.
Wayan Tagen
DADONG DAUH NGELAH SIAP PUTIH BE METALUH REKO
MINAB ADA, LIMOLAS TALUHNE, NANGING LACUR, ADE NE NEPUKIN
ANAK CERIK-CERIK
ANAK CERIK-CERIK YA KELIWAT RUSIP IPUN.
Pekak Sarna
Wayan, kamu harus belajar matembang dengan sungguh-sungguh. Biar bisa ikut kontes drama antar desa.
(Melipat kertas itu dan menyelipkan kertas itu di sela-sela pinggang yang terbalut kamben.)
Ayam putih harus bertelur dengan ikhlas, lima belas butir jumlah telurnya tetapi telur itu dicuri oleh anak-anak yang nakal. Kau Wayan, tak boleh seperti anak-anak itu yang selalu mencuri telur-telur ayam milik Dadong Dauh. Kau harus ikhlas dalam belajar.
Wayan Tagen
Nggih Kak. Tapi sarang ayam dadong tak pernah dipakai bertelur oleh ayam betina itu, ayam itu lebih sering tidur di cabang pohon. Kata nenek, ayam itu kena leak. Makanya ia selalu melihat dari atas ke arah kuburan desa. Jadinya aku takut mendekati ayam itu, apalagi jika ayam itu bertelur. Hi...(bergidig)
Pekak Sarna
(Pekak Sarna mengelus kepala Wayan Tagen Kecil. Berdiri dan hendak meninggalkan Wayan Tagen)
(Memberikan nasehat) Wayan Tagen, ingat, kau juga jangan menyentuh kitab yang ada di pelangkiran itu! Anggap ia sebagai telur ayam itu. Setiap orang yang menyentuhnya akan menjadi telur. (tatapan mata menakut-nakuti) Dan telur sebenarnya adalah pengganti bayi yang menjadi makanan para leak. (Wayan Tagen menatap kitab itu dengan perasaan takut).
SOUND OUT
Suara anak-anak bermain CINGKLAK terdengar di luar rumah Pekak Sarna. Seolah memanggil Wayan Tagen kecil agar ikut mengetam tanah. Suara semakin mendekat. Wayan Tagen terlihat mencari arah suara.
Komang Lanus
Wayan.....Wayan.....kita bermain di luar...uh...di sini panas Wayan. (melihat sekeliling) Aku punya mainan baru dari kota. Mobil-mobilan plastik. Tidak seperti mobilmu yang hanya terbuat dari sabut kelapa.
Wayan Tagen
(kesal) Ah...mobil sabut kelapaku tetap bagus...
Komang Lanus
Ha...ha..bilang saja kamu tidak bisa beli. Kakekmu kan cuma dapat uang dari sabung ayam. Apalagi kau tak punya orang tua.
Wayan Tagen Kecil
Biar saja, kalian semua tidak memiliki kitab yang bisa merubah anak-anak nakal menjadi telur.
Anak-anak (5 orang)
(Saling pandang keheranan) Jadi telur...?
(Wayan Tagen menunjuk kitab itu dengan bangganya. Anak-anak lain berdesakan ingin melihat lebih dekat. Kepala mereka mendongak karena pelangkiran tempat menyimpan kitab itu letaknya tinggi untuk anak seusia mereka).
Komang Lanus
Wayan, ayo buktikan kalau kitab itu bisa membuat kamu menjadi telur.
Wayan Tagen
Baik, tapi kamu harus ikut memegangnya, kamu kan juga nakal.
Komang Lanus
Aku tak takut...benar tidak teman-teman..?
Anak-anak
Ya... (serempak)
Brata
Nanti kalau kalian sudah jadi telur..aku ingin telur rebus
Putu Janten
Aku ingin telur mata sapi
Pelog
Aku ingin diaduk di buburku yang kental. Emh....
Druma
Ayo cepat...kami ingin lihat...!
Wayan Tagen dan Komang Lanus menjinjitkan kaki mereka ke arah pelangkiran. Beberapa kali tangan mereka berusaha menggapai. Mereka kemudian menarik lesung yang berada di tengah panggung. Mereka tampak bersusah payah. Kemudian Wayan Tagen memandang lesung dan beranjak.
Wayan Tagen
Kita pakai saja lesung itu!
Komang Lanus
Eh..jangan, itu kan lesung untuk menumbuk obat, nanti kamu sakit karena menginjaknya.
Wayan Tagen
Ah.. tidak, nenekku sudah tidak menggunakannya lagi. Ia lebih sering meminum obat yang bundar-bundar dari pak mantri.
Mereka dengan susah payah menyeret lesung itu di bawah pelangkiran yang menyimpan kitab itu. Wayan Tagen Kecil segera menaiki lesung dan tangan mungilnya segera meraih kitab itu. Dengan gemetar ia berdiri di lesung dan memejamkan matanya, sambil sesekali melirik ke arah kitab. Setelah menunggu beberapa hitungan, tidak terjadi perubahan apa-apa. Ia akhirnya membuka mata. Tangannya mengusap-usap kulit luar kitab yang huruf-hurufnya timbul. Segera saja Wayan Tagen kecil mengambil seruling yang dipegang oleh salah satu temannya dan meniup seruling untuk mengusir debu yang menempel di atas kitab lembab.
Wayan Tagen
Mungkin dengan ini, semua bisa terjadi.
Suara langkah terdengar dari halaman rumah. Semua anak-anak itu menahan napas.
PEKAK SARNA IN STAGE
Lampu meredup. Hanya ada sinar dari celah-celah bambu dan kepul setanggi. Segera Pekak Sarna menghadang dengan telunjuk, bau tembakau yang keluar dari bibir keriputnya.
Pekak Sarna
Ia tengah melinting tembakau dari daun jagung. Tiba-tiba ia terdiam memandang tingkah cucu satu-satunya itu.
(terkejut) Wayan, apa yang kau lakukan. Jangan sampai lembarnya tersingkap!
Anak-anak yang lain berlarian, pulang ke rumahnya dan menjadikannya dongeng yang menjadi kenyataan. Kakek segera meraih uang kepeng yang disimpan di pelangkiran dan memutar uang kepeng itu di atas kitab. Setelah tangan renta itu menentukan pilihan, ia segera memasukkan uang kepeng itu di tengah halaman kitab. Menaruhnya di sebuah almari yang bertungkai keropos.
Kau sangat nakal Wayan...(geram). Wayan, katupkan tanganmu di kening. (sambil menarik tangan Wayan Tagen ke pelangkiran itu). Kau harus menyumbah kitab sebanyak seratus delapan kali. Angka suci dari butiran genitri ini, biji yang mampu menyerap cairnya dosa yang mengisi wadah manusia. Jika itu tidak dilaksanakan, bait-bait dalam kitab ini akan mengacak pikiranmu. Pikiran yang masih hijau, sehijau daun kalancang. Kau tahu, warna hijau adalah darah dedaunan!! (menggertak)
Wayan Tagen mengatupkan kedua tangannya di kening, menyumbah dengan hening di depan kitab itu. Sang kakek dengan tajam menatap kitab.
LAMPU BLACK OUT
BABAK II
LAMPU FADE IN, MENERANGI LELAKI-LELAKI BERTELANJANG DADA, MEREKA BERSORAK DAN MENYISAKAN RUANG MELINGKAR UNTUK DUA SOSOK LELAKI KECIL. LELAKI KECIL, AYAM ADUAN. WAYAN TAGEN DAN KOMANG LANUS. MEREKA BERADU DI ARENA ITU. WAYAN TAGEN DAN KOMANG LANUS BERJALAN MELINGKAR KE PINGGIR MEMBUAT LINGKAR PANGGUNG MEMBESAR. TUBUH MEREKA KEMUDIAN BERADU DAN SEMAKIN KERAS PULA TERIAKAN LELAKI-LELAKI PENJUDI ITU.
Lelaki-Lelaki Penjudi Sabung Ayam
Biing....biing...biing....biing....
Gasal....gasal...gasal....gasal......gasal.....
Brumbun....Brumbun...Brumbun...
Nemin...nemin....nemin....
Cok....cok...cok....cok...
(beberapa kali sambil memegang uang taruhan)
Kedua anak ini tak menyimpan rona kanak lagi. Wayan Tagen semakin terlihat beringas ketika ia tahu bahwa Komang Lanus tlah semakin lelah. Apalagi ketika ia melihat Komang Lanus terlihat menggelepar kalah......
Semua terdiam. Tersadar, mereka heran bahwa yang tadi mereka adu adalah anaknya. Seorang lelaki tampak membelah kerumunan ia merangkul tubuh Komang Lanus.
Ayah Komang Lanus
Anakku ayam aduan, Tak ada jalinan sarang di tubuhnya kini
Wayan Tagen kecil menutup mata dengan legam lututnya lalu memalingkan tatap ke titik hujan yang menusuk tanah. Titik air yang mencipta mahkota yang mengalir ke tanah tempat manusia mengeram butiran nyawa sekaligus memecahkannya. Wayan Tagen telah larut dalam rakitan sayap lelakut yang dingin. Yang hanya tahu bahasa usir, bahasa pelindung santan padi. Wayan Tagen bercermin murai, mendongeng di tugu kedewasaan yang tidak sepakat dengan waktu. Seseorang menyulutkan api, menyesapkannya ke pekat yang pudar.
LAMPU BLACK OUT,
LAMPU FADE IN, sementara itu Wayan Tagen berdiri terpaku di tengah panggung. Lampu menguat di atas kepalanya.
Wayan Tagen
(Tatapan mata menerawang, badannya tampak kurus. Ia duduk mencium lutut dan diam.)
Namaku Wayan Tagen, Aku jadi kuli bangunan di desaku. Jadi pedagang asong, penjual koran dan tepatnya adalah anak jalanan. Aku tak lari dari desa karena desa atau kota sama saja dengan garis tangan yang mengeram debu. Ayahku seorang petani yang gagal panen karena tidak ada lagi lahan untuk bulir padi, semuanya sudah ditanami tulip besi. Aku tak dihukum lagi karena kakekku sudah tak ada. Mereka memajangnya di sebuah etalase toko sebagai lukisan lelaki tua pesabung ayam. Jika aku mengasihaninya, ia lebih rendah daripadaku. (dengan muka masam).
LAMPU WAYAN TAGEN DEWASA BLACK OUT
LAMPU FADE IN, menerangi sosok tua. Ia Wayan Tagen yang ringkih dengan penopang tubuh. Sebuah tongkat dari kayu santan.
Ia berjalan di lingkar cahaya dengan mengetuk-ngetukkan kayu penopang kakinya yang pincang di lantai tanah sehingga lingkar debu diam sesaat untuk dihapus dari ruang pengap itu...
Wayan Tagen
Di mana kucarikan wajah yang rupawan?
Wayan Tagen Tua
Mata remangku melihat pendongeng itu lagi. Ia mendongeng tentang seorang wanita dengan batik terseret, menumpahkan isi canting di tangan. Wanita itu melukis aksara di udara, memainkan kata di helai kain dengan cantingnya saat gadis-gadis dengan jemari melentik tak suguhkan lipatan kain dengan tinta keemasan dan tak gundah lagi menyajikan tubuhnya sebagai kanvas yang terfigura pundi-pundi candu. Tapi ia tidak seperti wanita lain. Aksara itu telah memberaikan warna dan mewujud menjadi seorang wanita dengan garis wajah yang memiliki pahatan dalam dan lekuk yang berbicara tentang alir kelahiran. Wajah Ibu bumi yang menyerupai rangda.
Rangda itu menjelma seorang pragina yang bertetabuhan rintik air dan gemerincing genta di kedua kaki, menggores kain di udara dengan getar jemari, memahat topeng watak yang tersangkup roh pada keping wajahnya dan ikut menarikan lakon batari Durga untuk mengasuh embrio dalam darah karena garis air telah mengerami plasenta untuk mengafaninya. Mengafani penerimaan pada sang rangda.
Wayan Tagen
Tapi ia seorang pragina, hidupnya hanya untuk menari di Pura, Ia sudah dianggap sebagai istri Dewa Siwa. Bagaimana mungkin aku bisa menikahinya?
Wayan Tagen Tua
Dewa Siwa sangat pemurah, tidakkah mungkin ia membagi istrinya untukmu? (sambil mengunyah tembakau )
Wayan Tagen
Yang aku tahu ia seorang jejumput yang dikehendaki Tuhan. Kau ingat, ketika perawan terakhir di desa kita menarikan tarian Sang Hyang di remah api? Ia kesurupan dan dalam keadaan itu ia menunjuk gadis itu menjadi penggantinya, menarikan setiap lakon di Pura Dalem.
Wayan Tagen Tua
Ia sudah bosan, Tagen....Ia wanita yang sudah sesak dengan aroma dupa. Ia hanya ingin menyelamatkan diri. Untuk itu ia menunjuk gadis lain.
Wayan Tagen
(Wayan Tagen menengadah, rambut yang satu persatu mengulur resah, berbisik pada bumi dan berucap...)
Dirah,........................
WAYAN TAGEN TERBANGUN DARI MIMPINYA. Sementara Wayan masih tertegun dari mimpinya, Putu Janten In stage.
Putu Janten
(dengan penuh semangat mengguncang tubuh Wayan Tagen)
Wayan,....bangun...di balai banjar desa ada pertunjukan wayang. Kau juga harus tahu bahwa Dirah, gadis cantik itu akan menarikan lakon Sinta. Ayo...kau harus ikut Wayan....aku ingin memperkenalkan Dirah kepadamu.
Wayan Tagen
Dirah...nama itu...? Aku tak pernah mengenalnya.. Apakah suara jangkrik akan padam karena getar gigil hatiku ketika bertemu denganya.?
Putu Janten
Ha..ha...Wayan. Di desa ini lelaki mana yang tidak menginginkannya. Ayo Wayan!
LAMPU BLACK OUT
LAMPU FADE IN
Suara denting gamelan telah menelusup ke sela kayu kalancang putih yang dihantarkan sinar obor. Wayan Tagen dan Putu Janten bergegas.......Wayan Tagen dan Putu Janten merapatkan punggung mereka yang basah oleh keringat. Sementara itu kelebat bayang wayang mengitari tubuh mereka. Di antara kelebat bayang wayang itu muncul seorang wanita dengan rambut yang legam, hampir menyentuh kuncup tanah. Ia menari dengan gemerincing genta di kedua kaki. Matanya terpejam dan tangan yang sesekali memuncak menyerahkan harapan bakti.
Seluruh wayang yang berputar di tubuh Wayan Tagen perlahan rebah ke tanah, begitu pula Putu Janten. Hanya ada tubuh Wayan Tagen yang terpana dengan tarian Dirah.
Dirah
Wajahmu sangat lekat ku kenal, pernahkah kita bertemu sebelumnya?
Wayan Tagen
Ah...Dirah, bisakah wajah sepertiku lekat di ingatanmu nan cantik.
Dirah
Aku ingat laskar wanara yang tertipu Raden Indrajid. Ku ingat seperti kau yang memanggil namaku dan laskar wanara itu tertidur oleh ajian sirep yang ditebar Raden Indrajid. Kau masih ingat kata ini Sinambut atmane sang putus inunggahan mago,ring jampana tuhwa ngrawit ,
Wayan Tagen
Ha..ha...telingaku telah tersumbat klakson terminal kota. Aku hanya mengecap rasa udara. Sering pula aku mendengar sang guru mengeja kata...di usia telinga yang tak tua, tapi tak sekalipun aku mendengar bibirnya mengucap hal itu.
Dirah
Jadi kau siapa? Siapa ku bisa memanggilmu?
Wayan Tagen
Wayan,...Wayan Tagen...
Dirah
Bisakah kau datang saat ku menari lagi?
Wayan Tagen
Untukmu? (keheranan)
Dirah
Kutunggu di bawah kalancang putih, saat matahari kembali ke titik senja.
(Kelebat wayang perlahan terbangun dan membungkus tubuh Dirah. Putu Janten pun tersadar dan menepuk Wayan Tagen yang terpana. Wayan tersentak)
Putu Janten
Aku yakin, malam ini mimpi kita sama
Wayan Tagen
Tentang penari itu? Apakah ia sama dengan gadis lain yang tergiur oleh pundi-pundi candu, memanggil setiap lelaki untuk bersuka?
Komang Lanus
Kenapa kau menanyakan itu? Ia gadis yang dipuja banyak orang.
Wayan Tagen
Aku tak tahu, aku hanya curiga.....
SEORANG LELAKI DATANG DENGAN TATAPAN TAJAM DAN SEGERA MENGHAMPIRI TAGEN DI SELA-SELA WARGA YANG BERANJAK PERGI.
Komang Lanus
Aku lihat tadi kau berbicara dengannya apa yang terjadi? Jangan sampai kau melukainya?
Wayan Tagen
Sama skali tidak, ia terlalu cantik untuk kulukai. Di bawah kalancang ia akan menari, berbekal genta yang gemerincing di kedua kakinya, hanya itu.
Komang Lanus
Apa..? sebagai pragina ia berani seperti itu?
Wayan Tagen
Apa yang salah?
Komang Lanus
Jangan pernah kau datang ke tempat itu. Pohon kalancang adalah....(gugup lalu berbisik) pohon itu...itu wingit, dikeramatkan orang sedesa. Hanya wanita gila yang mau ke tempat itu.
Wayan Tagen
Apa maksudmu?
LAMPU BLACK OUT
BABAK III
LAMPU FADE IN (WARNA SENJA), MENYINARI SEORANG WANITA DI BAWAH POHON KALANCANG. TANGANNYA DENGAN LINCAH MEMBUBUHKAN WARNA SAMBIL MENARI. CANTING-CANTING YANG MENETESKAN TINTA HANGAT. DIRAH MEMUNGUT HELAI-HELAI DAUN DAN MENATANYA DI TANAH.
Dirah
Matahari kian menusuk barat. Kenapa ia belum datang, apakah karna aku lupa mengatakan tujuan? Apakah penari lakon hanya boleh bercakap dengan deretan aksara? Apakah ia tak bisa menjadi lindap angin yang mengerti cinta? Ah...kenapa aku resah...siapa dia, siapa? Aku tak lama mengenalnya. Mungkinkah aku harus menungggu sampai pekat tak larut oleh sulut api. Ataukah aku tlah menunggu hingga pagi karena burung tak segan bernyanyi? Tidak....ini suara sajak kelasih yang sedih kehilangan anaknya.
(Terdengar suara gemeretuk. Seorang lelaki menapaki kerikil hitam dengan kaki telanjangnya menuju pohon kalancang itu. Komang Lanus mendekat dengan perlahan. Gemeretuk batu meretak terinjak oleh kakinya. Komang Lanus, lelaki berkulit cemani yang memiliki kebiasaan menerka terik mentari dengan kulit tubuhnya. Dirah tersentak)
Dirah
Wayan, akhirnya kau menepati janji (gembira) . (tersentak) Kau?
Komang Lanus
Dirah? Kenapa kau di sini?
Dirah
Aku.......aku (gugup)
Komang Lanus
Wayan? Pasti dia bukan? Dirah, untuk apa kau menunggunya. Ia lelaki yang tak patut kau percayai, apalagi ia datang dari kota.....kau tahu bukan, bagaimana terasingnya kita dari tempat itu?
Dirah
Aku tahu, tapi...
Komang Lanus
Tapi apa? Sebagai seorang pragina dari desa ini, apalagi gadis perawan yang setiap saat bisa diambil sebagai jejumput untuk menari tarian api Sang Hyang, ia tak pantas memilikimu.
Dirah
Aku mengenalnya, terlalu mengenalnya,
Komang Lanus
Sudah berapa lama kau mengenalnya? Katakan padaku!
Dirah
Entah.....
Komang Lanus
Ha...ha..ha...kau hanya bisa menjawab entah.
Dirah...kau sangat percaya punarbhawa, apakah ia reinkarnasi yang selalu menyusulmu. Mungkin saja ia adalah seekor anjing yang kesasar saat mengikuti Yudistira
Dirah
Lanus....aku hanya mendengar apa yang mengiringiku saat menari. Aku dengar helai nafasnya jadi lampu wayangku, detak jantungnya seperti cak membuatku berdecak..dan..aku.......
Komang Lanus
Cukup Dirah, ia tak lebih baik dariku.
Setiap aku mendekatimu, dari dulu, selalu kau bercerita tentang canting, kitab tua, lontar dengan huruf-huruf tua, tapi sekarang kau bercerita tentang Wayan, aku tak bisa mendengarnya. Tak ku dengar tembang di suaramu tadi, tapi hanya amuk nafsu.
Komang Lanus berlalu, dengan berlari ke jalan setapak yang membaurkan warna langit.
LAMPU BLACK OUT
BABAK IV
LAMPU FADE IN, MENERANGI SEBUAH KAMAR PEREMPUAN. TERDAPAT BEBERAPA TOPENG TERPANCAK DI DINDING, KAIN-KAIN BERWARNA-WARNI TERLIHAT SEMBRAWUT. SEORANG PEREMPUAN TERLIHAT MEMBUBUHKAN ASAP DI WAJAHNYA YANG MENUA.
Julung Wangi
Kenapa para dewa selalu menyiksaku. (meluruhkan riasan yang menempel di wajahnya yang kaku) Aku istri Siwa yang hanya disetubuhi mantra. Aku telah sesak dengan aroma dupa.
Terdengar suara pintu diketuk. Julung tak berusaha menggubris ketukan itu. Ketukan semakin mengeras.
Komang Lanus, sound out
Komang Lanus
Julung...bukakan pintu, kita harus bicara. Aku minta bantuanmu.
Julung Wangi
Apa? Kau harus membawa kembang jika mau ke rumahku!
Komang Lanus
Ah.....(kesal) Kembang apa yang kau makan, tunjung, jepun, sandat, akan kusediakan semuanya. Tapi sekarang hanya ku bawa alang-alang agar lidahmu terbelah. Julung, ku tahu walau berapapun kembang yang ku bawa, kau akan membuangnya di sungai dekat bingin pura dalem agar Si Tagen busuk itu menumbuknya jadi cairan warna.
Julung Wangi
Sepertinya, kau tahu banyak, apa yang kau inginkan dariku?
Komang Lanus
Bukakan pintu ini, atau ku dobrak!
(Julung berusaha sabar. Ia berdiri meluruhkan sisa kembang di rambutnya yang semakin menipis. Ia lalu membuka pintu. Komang Lanus masuk tergesa dan duduk di tempat Julung biasa merias diri).
Komang Lanus
Aku ingin dia jadi jejumput, menggantikanmu sebagai istri Dewa Siwa. Ingatlah namanya saat menari di bara api dan biarkan orang desa tahu bahwa yang tertinggi menghendakinya......dengan itu tak seorang pun...tak seorang pun bisa memperistrinya. Tagen sekalipun.
Julung Wangi
Kau datang, sangat tak sopan!
Komang Lanus
Akan lebih tak sopan lagi ketika kau tak menuruti permintaanku (bangkit dan menatap dengan tajam bola mata jejumput itu)
Julung Wangi
Apa yang ku dapat jika melakukan hal itu?
Komang Lanus
Kau tak akan mendapat hujatan dan itu yang kau harapkan. Apa kau ingin namamu dan Tagen kuumbar di depan warga desa, dan mereka akan menyebut kalian murtad. Mengusir kalian dari desa ini tentunya.
Julung Wangi
Kau...begitu licik
Komang Lanus
(tertawa)
Julung Wangi
Katakan, siapa wanita itu?
Komang Lanus
Dirah
Julung Wangi
(tertawa) Dirah, pragina rejang itu? kau mencintainya? lalu kenapa kau tega menghukumnya?
LAMPU BLACK OUT.
BABAK IV
LAMPU FADE IN
KIDUNG DAN RINDIK JADI TANGGA, MENGIRINGI RITUAL DI PURA DALEM YANG DIBANGUN DARI KAYU SANTAN DAN KETULUSAN. LELAKI-LELAKI TENGAH BAYA MENGUSAP DAHAGA DI IRAMA RIAK AIR BENING. WAYANG TAGEN DENGAN DESTAR LUSUH DAN KAMBEN POLENG BERJALAN MENUJU KERUMUNAN. SETANGKAI DUPA HITAM IA SELIPKAN DI TANAH RETAK, LALU MENGULURKAN DOA PADA PARA DEWA-DEWI YANG BERSTANA DI PUNCAK KEINDAHAN. TELUNJUK YANG MENYATU DENGAN IBU JARI MENAUTKAN DIRINYA PADA YANG TERPUJA. MATA YANG MEMANDANG UJUNG HIDUNG MENEMPATKAN PARA DEWA-DEWI YANG MENARIKAN TARIAN TANDAWA DI PUNCAK PEMUJAAN.
LANUS IN STAGE, IA MENYELINAP DI KERUMUNAN YANG BERANJAK KE TANAH LAPANG. DI TANAH LAPANG ITU, TELAH BERSERAK REMAH API. JULUNG WANGI DENGAN DUPA MENYALA DI SELA-SELA RAMBUTNYA. IA MELANGKAH TERPEJAM, PELAN IA MENARI. BIBIRNYA MERAPALKAN JAPA MANTRA, SESEKALI IA MENYANYI. TIBA SAAT KAKINYA NAPAK SIRANG PADA, TUBUHNYA MELIUK TAK PASTI. IA DALAM KEADAAN TRANCE. SEMUA WARGA DESA BERKERUMUN, MEMANDANG TAKJUB KE ARAH JULUNG YANG MENARI DENGAN KAKI YANG BERCAKAP BARA API. WARGA DESA KEHERANAN
Orang I
Apa yang terjadi pada jejumput itu?
Orang II
Ia sedang kerasukan roh halus, mungkin akan memberi petunjuk pada kita. Untuk kesejahteraan kita...
Orang III
Kau begitu mudah percaya
Orang II
Hah...kau kalau tak percaya lebih baik pergi
Julung wangi, penari dengan bibir yang harum itu sudah 29 tahun meliukkan lentik jemari, kini ia menebarkan aroma dupa terakhir di lekuk telinga para warga.
Julung Wangi
Dirah.....Dirah......ia akan menjadi jejumput. Menari untukku di jaba pura dalem. Dirah...tancapkan kembang arjuna di tanah ketika kau menerimaku esok pagi.
Para warga desa yang berkerumun keheranan menanggapi pesan yang mereka anggap harus dijalankan itu. Mereka memapah Dirah yang dihadapkan ke pusat panggung
Orang-Orang Desa
Bagaimana Dirah?
Bagaimana Dirah?
Kau akan jadi wanita tersuci
Kau akan menjadi wanita terhormat,
Kau akan menjadi istri dewa siwa
Kau akan menjadi perawan seutuhnya
Dewi Uma akan meminjam tubuhmu
Dirah
Lalu jiwaku, mati? (diam menatap mata orang-orang desa)
Tunggu kembang darah itu tertancap di tanah, jika dia yang kuanggap kekasih hatiku tak menghendakiku
Orang-orang Desa
Tapi kami sangat ingin kau jadi jejumput itu, kalau tidak kita pasti akan terkena bala bencana...
ORANG-ORANG MENINGGALKAN DIRAH.
LAMPU BLACK OUT
BABAK V
JULUNG WANGI IN STAGE
JULUNG WANGI MEMBERSIHKAN RIASAN DI DEPAN CERMIN BESAR. SEMENTARA DI BELAKANGNYA, KOMANG LANUS YANG PADA MULANYA BERDIRI GELISAH, MENDEKAP DAN MEMEGANG JEMARI JULUNG WANGI. JULUNG WANGI TERSENTAK. TAK PERNAH IA DIPERLAKUKAN SEPERTI ITU. TIBA-TIBA JULUNG TAKUT MENATAP LANUS.
Komang Lanus
Ini terakhir kali kau melepaskan sisa riasan di rambutmu. Jemarimu akan berhenti bergetar. Dirah tak akan pernah kembali. Bau dupa akan selalu mengikuti tubuhnya dan aku muak dengan bau dupa itu.
Julung Wangi
Lepaskan tanganmu
Komang Lanus
Kau sudah bukan jejumput lagi, jadi.....(berusaha menggapai tubuh Julung Wangi. Julung berusaha melepaskan keinginan Lanus terhadap dirinya. )
Terdengar ketukan pintu.
SOUND OUT
Julung...Julung Wangi.....
Komang Lanus segera melepaskan pelukannya terhadap Julung sambil mengumpat.
Komang lanus
Sial.....!
Wayan Tagen
Apa yang kau lakukan di sini? (menjauhkan tangan Komang Lanus dari Julung Wangi)
Komang Lanus
Apa urusanmu. Lalu kau, kenapa ada di sini?
Wayan tagen
Tak usah kau tahu.
Julung Wangi
Tagen, masuk, kita tinggalkan saja lelaki ini.
(Wayan dan Julung wangi duduk di sebuah kursi. Komang lanus beranjak pergi. Julung Wangi tampak resah)
Julung Wangi
Aku tak tahu apa yang terjadi kalau kamu tak ke rumahku mengambil bunga ini. Aku tahu bunga selalu suci. Wayan, cepatlah ke pelataran pura, di sana Dirah sedang menancapkan kembang darah sebagai simbol ia telah menjadi jejumput. Kau harus mencegahnya. Ini hanya akal dari Komang Lanus yang kecewa karena cintanya diabaikan
Wayan Tagen
Apa....? Tapi kau menari di remah api waktu itu....
Julung Wangi
Kau bisa lihat kakiku ini.(memperlihatkan kakinya dengan luka bakar yang cukup parah)
Wayan Tagen
Kau gadis jejumput itu, yang menipu dan bosan dengan aroma dupa bukan?
Julung Wangi
Ya...
Wayan Tagen
Kenapa wanita sepertimu tega berbuat seperti itu?
Julung Wangi
Aku tidak berdaya, lelaki itu mengancam akan mengusirku dari desa
Wayan Tagen
Aku ingat, dia Dirah, wanita yang bisa menerjemahkan kitab itu seperti isi mimpi tuaku
LAMPU BLACK OUT
BABAK VI
LAMPU FADE IN
TERLIHAT DIRAH BERADA DI SUATU HALAMAN TERBUKA, DENGAN PELAN DAN RAGU MENANCAPKAN SEBUAH KEMBANG DARAH DI RETAK TANAH...
WAYAN TAGEN DATANG TERSENDAT.
Wayan Tagen
Dirah.......jangan lakukan itu
Dirah
Wayan....(hendak berlari) kenapa kau tak hirau hingga datang sesenja ini....?
Wayan Tagen
Apakah waktu bisa dihapus...(beranjak dan menginjak kembang darah itu)
Dirah
Jangan wayan, kau bukan siapaku, jadi kekasihku pun tak pernah.
Wayan Tagen
Dirah...(berlutut) maafkan aku. Aku memang bodoh...
(suara putus asa) Menarilah Dirah...dengan gemerincing gentamu, kau milik Siwa...
Dirah
Aku tak ingin warga desa menganggap Siwa sebagai penghukum yang mencipta neraka bagi yang melanggarnya, tapi bagaimana mereka percaya bahwa Tuhan itu penuh welas asih.
(Dirah menari dengan disaksikan oleh Wayan Tagen....meliukkan tubuhnya sebagai pengalur alir dupa.)
Siluet sebagai kanvas pun membentuk sebuah wajah tetapi yang tampak adalah wajah yang memiliki pahatan dalam dan lekuk yang berbicara tentang alir kelahiran. Wajah rangda sebagai lanjutan dari lukisan tubuh yang terhenti di kala wajah ingin dibentuk.
Dirah
Kitab ini tentang tradisi desa kita yang tertinggal. Membatik, yang ditinggalkan para gadis kita. Hari ini juga, kitab yang dikeramatkan orang-orang sebagai warisan Rangda Ring Dirah, perempuan yang dibaptis menjadi masa lalu kelam. Lembar-lembarnya usangnya berbicara tentang lembar kain yang melekat di jemari dan warna adalah alir darahnya. Wanita itu bernama Rangda ring Dirah, yang meragai diriku yang kini terus mempertahankan tradisi membatik itu. Kini menari, seorang pragina yang bertetabuhan rintik air dan gemerincing genta di kedua kaki, menggores kain di udara dengan getar jemari, memahat topeng watak yang tersangkup roh pada keping wajahnya dan ikut menarikan lakon batari Durga. Untuk mengasuh embrio dalam darah karena garis air telah mengerami plasenta untuk mengafani penerimaan pada Rangda Ring Dirah. Dan kau ?
Wayan Tagen
Aku orang pertama yang akan menerima Dirah. Teruslah menari, hingga kembang darah itu koyak....
LAMPU BLACK OUT
BABAK VII
LAMPU FADE IN
SEMENTARA SUARA-SUARA DI LUAR SEPERTI AIR YANG MENIMPA BEBATUAN SUNGAI. SEORANG LELAKI MENAPAKI KERIKIL HITAM DENGAN KAKI TELANJANGNYA MENUJU RUMAH WAYAN TAGEN YANG HIDUP DI DESA SRADA, DESA YANG KENTAL DENGAN DONGENG ROH PARA PRAGINA YANG YANG MENUNTUN SEORANG PERENUNG DALAM MENCIPTA SAPUAN WARNA.
Komang Lanus
Sudah puputkah sedekahmu pada kesucian?
Wayan Tagen
Kau?
Komang Lanus
Ya, aku dengar kau melukis Sita, bolehkah ku lihat?
Wayan Tagen
Tentu.., masuklah!
Komang Lanus
Kenapa kau tak mencari pewaris dengan menikahi Julung? Kau akan mendapatkan anak-anak yang indah, bukankah begitu?
Wayan Tagen
Apa yang bisa aku wariskan? Aku rasa bukan harta, paling hanya cerita zaman dulu, saat Bali masih menuturkan keheningan di mana aku bisa mencampur warna dari air yang melewati lorong bambu gading. Hh....sekarang, sawah-sawah telah rata, bahkan debu pun tabu untuk sekedar mengotori kaca yang telah memantulkan diri yang berbeda. Gadis-gadis kini banyak yang tertipu....
Lanus hanya bisa mencengkram kata-kata itu. Ingin rasanya ia mengusir Wayan Tagen dari desa ini. Baginya keadaan desa sudah memuncak sekarang, dan pikiran Wayan Tagen adalah pikiran yang kolot atau pencipta dogma yang lahir dari zaman dahulu kala.
Komang Lanus
Bagaimana kalau lukisan ini aku beli, yah...hitung-hitung untuk membeli rokok, toh tidak ada yang akan mengerti lukisan ini, lebih baik dijadikan sesuatu yang menyaring jerih payahmu, iya kan?
Wayan Tagen
(Wayan Tagen tertawa )
Apakah kau tak mencium aroma tembakau dari mulutku? Desa ini menyediakan tembakau yang sangat kuat aromanya dan lagipula aku tak akan menjual lukisan itu. Tak baik menjual karya hanya untuk kesenangan dunia semata. Apalagi sampai menjual hal-hal sakral. Bodoh....sungguh bodoh, mau saja ikut-ikutan hanyut dalam kebingunan primata yang menggunakan akalnya untuk menarik garis keuntungan saja.
Lanus tak menghiraukan omongan dari Wayan Tagen yang telah kehilangan fragmen masa depan. Lanus tetap bersikukuh pada penawarannya. Jakun yang terseret naik turun itu menandakan ketidakpuasannya.
Komang Lanus
Kenapa kau bersikukuh mempertahankan lukisan ini?
Wayan Tagen
Berdirilah di depan lukisan itu, kau akan tahu.
Lanus menjubahkan keraguan dan berdiri di depan lukisan itu dan ia pun melihat bayangan dirinya seperti di cermin dan perlahan garis-garis itu saling tarik menarik dan membentuk gurat nadi yang mendetak.....mendetak......dari detak itu, seratus muka dengan mahkota yang menjuntai menutupi gelung rambut muncul di hadapannya. Lanus ketakutan. Tubuhnya goncang tanpa dapat disangkal karena kehidupan Rahwana muncul di hadapnya. Segera Lanus mencengkram Wayan Tagen
Komang Lanus
Penipu, kau gunakan ajian apa untuk menipuku. Setelah berhasil kau merebut hati Dirah, kini kau anggap aku Rahwana. Bukankah kau yang menculik Sita dari orang-orang desa, sudah lama aku mencurigaimu
Wayan Tagen
Kau......(geram)
DIRAH IN STAGE
Dirah datang dengan tergopoh, terjadi perubahan yang sangat mengejutkan pada tubuhnya.
Dirah
Bisakah kau dengar ceritaku Wayan...(sambil memegang perutnya yang membuncit
Wayan Tagen dan Komang Lanus terpana. )
Wayan Tagen
Apa yang terjadi, kenapa perutmu?
Dirah
Aku tak tahu...ini hanya terjadi dalam semalam
Komang Lanus
Dirah....kau telah mencemarkan nama baik desa ini, apa yang kau lakukan selama menjadi jejumput...
Dirah
Aku tak pernah melakukan sesuatu yang terlarang. Aku tahu seorang jejumput tak boleh menikah apalagi melakukan hal itu di luar nikah.
Komang Lanus
Penipu, kalian berdua adalah penipu.
Orang-orang terlihat berjalan menuju titik cahaya dengan keluh kesah yang dalam. Mereka bermata sembab, pedagang itu menjual cerita tentang para dalang yang kehilangan pekerjaan karena Sita tidak meragai wayang yang dipertunjukkan.
Dirah
Masyarakat sedang menanti Sita kembali, untuk meragai wayang agar bayi-bayi yang lahir pada saat tumpek wayang bisa lari dari sang kala. Kakak laki-laki yang kerap memecahkan gelas hidup itu. Lihat Tagen, apa yang harus aku lakukan ketika di nyala api yang tergantung memperlihatkan Rama begitu gundah mencari Sita? Apa yang bisa kulakukan, sedang diriku juga mengalami bencana?
Wayan Tagen
Bencana? Tidak, jangan anggap anugrah Tuhan ini sebagai bencana
Komang Lanus
Kenapa tidak, semua ini terjadi karena kaulah yang menculik Sita
Wayan Tagen
Apa...?
Komang Lanus
Ya....di lukisan itu...dan kau lebih tak sopan lagi, menempatkan wajah Dirah di tubuh Sita. Apakah agar tak ada yang mengenalinya
Wayan Tagen
Kearifan bisa saja bersembunyi di balik wajah yang tak rupawan
Komang Lanus
(tertawa) Penebar wabah telah dibangkitkan kembali oleh Wayan Tagen, pelukis yang mendidihkan dendam perempuan yang tertipu oleh Empu Bahula. Bahkan anaknya sendiri tak ia akui. Mungkin saja bayi itu akan digunakan sebagai pembalur tubuh wanita rangda. Sita yang berparas layaknya seorang Dewi dilekatkan di wajah Dirah yang tak berupa manusia itu. Sita telah dicampakan ke ruang yang penuh kenistaan. Inilah akibatnya, kita hidup dalam kemiskinan, penuh muslihat dan perang. Itu tidak lain disebabkan oleh pelukis itu
Masyarakat desa yang mendengar kata-kata Komang Lanus tidak menunggangi kesadaran mereka, sehigga larut dalam belanga kebencian Lanus. Dengan obor tergenggam di tangan, menyambar udara yang ketakutan. Angin renta tak dapat menyampaikan pesan kepada Wayan Tagen. Wayan Tagen, kesedihannya belum terkafani, tetes air matanya belum menjadi embun di pagi hari yang dapat menyejukkan hati setiap orang dengan lukisan-lukisannya.
Wayan Tagen
Kau tak sempat bertanya kenapa wanita lukisanku berwajah layaknya Dirah. Atau mengapa rambutnya tergerai seolah mengulur dendam.
Orang-orang desa
Usir Dirah, ia hamil pada saat dirinya berada di puncak kesucian.
Usir Wayan Tagen, ia telah menggunakan kelihaiannya menipu dan mengurung Sita di dalam kanvasnya.
Kanvas itu pun dibakar warga desa. Nyala obor menerangi lingkar tubuh Wayan Tagen dan Dirah. Mata basahnya dikelilingi oleh telunjuk-telunjuk yang menuduh.
Wayan Tagen
Aku tidak merampasnya, tapi kalian harus tahu, bayi yang dikandung Dirah adalah titipan Tuhan jadi tidak seharusnya kalian menuduh kesetiaannya terkotori. Aku akan menikahinya.
Dirah menarikan tangannya menarikan lakon Sita di sisa remah api kanvas itu.
Dirah
Bayiku adalah Kuca dan Lawa, kibarkanlah layar, bayang-bayang wayang yang akan aku mainkan untuk menghalau kala. Lukisan ini lahir ketika ku ingin melihat ketulusan, ketika manusia kehilangan sandaran kesetiaan dan bumi menjadi neraca yang bimbang.
Tamat
0 komentar:
Poskan Komentar