Pernahkan kau percaya dengan petang lewat suara jengkrik di pinggir pematang? Adakah tanganmu percaya bahwa air hujan yang menggenang telah hangat karena jadi kubangan katak bertotol hijau? Katak itu mengeluarkan suara dan membual dengan gelembung dari kerongkongannya. Sudah pasti akan lewat petang, ketika kecebong hitam mencari teduh di daun padi yang tipis, menggeliat di bawah terik. Siang ini mereka tidur, menenggelamkan mata-mata basah di lumpur yang lembut. Akan tetapi, hari ini hujan tak reda. Inilah saat gemericik air membuat lingkaran air hingga ke tepi, menyentuh batang rumput. Air hujan memenuhi pembuluhnya, dan daun yang kekenyangan meneteskan air bening ke lekuk-lekuk pematang.
Pernahkah kau percaya bahwa nafasmu yang hangat menjelma kabut. Kau berada di antara nafas dan kabut. Perlahan senyap dalam tubuh kabut yang dingin. Kau kembali menyesap ke akar-akar pohon yang rekah, ke liang kecil tempat semut menyimpan telur-telur mereka, juga menggigilkan ransum berupa serangga malang yang jatuh dari jejaring laba-laba. Nafasmu yang hangat menjelma kabut menuju rekah tanah, melekat di pohon bougenville, berlindung di serbuk sari yang disimpan dalam terompet-terompet kecil bunganya. Cuaca yang dingin, kupu-kupu mengatupkan sayap, mengingat selimut benang tebal dan menggulungnya hingga tak sadarkan diri dalam mimpi tentang lautan rerumput yang tak habis-habisnya tumbuh, tentang bunga matahari yang menjadi abdi cayaha. Semua itu mengaduknya menjadi kupu-kupu bersayap jingga. Karena sore melahirkannya di sebuah ranting yang hampir jatuh. Dengan sayapnya hampir sempurna ia tahu bahwa mimpinya akan diulang pada musim berikutnya.
Pernahkan kau suntuk di bawah pohon yang memekarkan bunga. Dengan tarian apa ia menggerakkan kelopak. Tahu-tahu ia telah memesonamu. Apakah kau tertipu, atau tersihir oleh lindap angin yang tiba-tiba menghilangkan kesadaranmu, menyimpannya sekejap di kulit kayu. Ketika tersadar, rona wajahmu sama dengan warna bunga itu.
IGA. Komang Williani
0 komentar:
Poskan Komentar