TOKOH-TOKOH
Memen Brayut (56 tahun)
Memen adalah perempuan yang tabah, sering memendam permasalahan dan berusaha tegar di hadapan anak-anaknya (anak kandung dan anak tirinya) . Ia rela melakukan apa saja untuk anak-anaknya
Ayah (Rudra) (62 tahun)
Suami dari Memen Brayut, yang juga suami siri dari Memen Janten. Ia seorang yang termasuk orang yang tak pernah puas. Ketika kekayaan telah habis untuk mencari wanita lain, ia pun ditinggalkan dan sekarang mengalami penurunan kesehatan.
Memen Janten
Perusak rumah tangga orang, dengan menggunakan pemikat, ia menguras kekayaan lelaki hidung belang.
Geo (25 tahun)
Anak pertama dari Memen Brayut dan (Ayah) Rudra, ia seorang yang protektif terhadap keluarganya. Tetapi tak bisa memberikan jawaban atas segala persoalan yang terjadi di keluarganya.
San (21 tahun)
Anak kedua dari Memen Brayut, Ia seorang perempuan yang mencintai perempuan, wataknya keras, temperamental dan implusive, cuek.
Candra (18 tahun)
Anak ketiga Memen Brayut dan Ayah (Rudra). Ia berwatak penuh kelicikan, terburu-buru dan gegabah.
Gending (19 tahun)
Perempuan yang dicintai dan mencintai San, tetapi ia akhirnya terjebak dalam masalah keluarga Memen Brayut.
Bibi (59 tahun)
Adik Rudra. Wanita ini suka bergosip dan mencemooh orang.
Pedagang I
Pedagang II
Wanita Pemecah Batu I
Wanita Pemecah Batu II
Wanita Pemecah Batu III
Beberapa Lelaki Pemecah Batu
Suara-suara
penari-penari kecil
Tempat
Di Sebuah desa buruh pemecah batu yang juga daerah persawahan
Waktu
1980. Siang, sore dan malam hari.
MEMEN BRAYUT
OPENING
PANGGUNG GELAP, SESEKALI KILATAN CAHAYA MUNCUL. TITIK-TITIK CAHAYA DI SILUET ADALAH BINTANG YANG BARU SAJA LAHIR DARI SENJA YANG TERUS BERGERAK. RIMIS AIR MEMBURAI, MENGISI PANGGUNG DENGAN BUTIRAN-BUTIRAN AIR. SUARA AIR TERJUN TERDENGAR MENUBRUK BEBATUAN KETIKA NYANYI JENGKRIK PADAM OLEH LANGKAH KAKI YANG MELEWATI RERUMPUTAN BASAH. SESEKALI JENGKRIK ITU MENYANYI BIRAHI LAGI. TETAPI SUARA LANGKAH BERUBAH MENJADI LOMPATAN-LOMPATAN KECIL. SETELAH PEMILIK LOMPATAN ITU SENGAJA DIAM, SUARA JENGKRIK ITU PUN TIMBUL LAGI. SETELAH MEMBIARKAN JENGKRIK BERNYANYI SEBENTAR ATAU MENGOMEL, MEMPROTES PEMILIK KAKI ITU, KEMBALI SUARA PEMILIK KAKI BERULAH.
ANAK-ANAK KECIL ITU SEDANG BERADA DI PEMATANG SAWAH, BERJAJAR DAN MELOMPAT-LOMPAT MENAKUTI JENGKRIK DAN KECEBONG. JENGKRIK DAN ANAK-ANAK ITU MEMAINKAN NADA SENJA.
MEREKA ANAK-ANAK MEMEN BRAYUT. MEREKA TERTAWA DENGAN RIANG. YANG PALING SULUNG MEMBAWA LENTERA MELEWATI PEMATANG YANG SEDANG MENGGENANGKAN AIR SUAM-SUAM KUKU, SEDANGKAN ADIK-ADIKNYA BERJEJER DI BELAKANGNYA, SAMBIL BERNYANYI DAN MERAUP AIR SUAM-SUAKM KUKU ITU MEREKA BERNYANYI.
(“Eceng Gondok Kebetang, Apang Liu Maan Gonda De Mengkeb Ngangon Kekeb, I Memen Jumah Suba Kenyel Ngantosang”)
Sementara dari kejauhan, terlihat lentera yang terus menyelidik, mencari letak anak-anak itu. Lalu mereka tenggelam ke titik lentera membaur dengan malam.
BABAK I
LAMPU FADE IN
TIGA ORANG REMAJA MEMUKUL KETIMPUNG DARI KULIT SAPI DI DADANYA. KETIMPUNG ADALAH TANGIS DARI DUA ORANG BAYI YANG DIRANGKUL DUA ORANG REMAJA. SEMENTARA REMAJA YANG SATUNYA LAGI MEMEGANG LENTERA UNTUK MENERANGI JALAN PEMATANG SAWAH MENUJU RUMAH MEREKA. TAPI WAJAH MEREKA SURAM, SEAAKAN MEMIKUL TANGGUNG JAWAB YANG TAK SEHARUSNYA DIBEBANKAN PADA MEREKA.
Candra
(Memainkan ketimpung kecil sambil menari, tubuhnya ingin menguasai tubuh ketimpung yang menggeliat)
Geo, bayi ini lahir dari apa, tubuhnya begitu kuat tangisnya memekak?
Geo
Mungkin dari api, berkobar ingin menyepuh langit hingga kayu-kayu pembakarnya gemeretak.
San
Lihat Ia kehausan, ingin hangat susu, tapi sayang dadaku tak akan mekar...
(memainkan juga ketimpung yang didekap di dadanya. Suara ketimpung adalah tangis bayi itu. Semakin kuat, hingga Geo menguatkan cahaya lentera ke arah bayi itu, berusaha menenangkan dengan kehahangatan dari bias cahaya. Ia menelisikkan cahaya secara bergantian hingga tarian kedua remaja itu memelan dan tangisan menjadi irama jantung sang bayi yang pulas. San dan Candra bersila, melepaskan penat, bergumul dengan geliat sang bayi. Mereka mengapit ketimpung yang juga bayi itu. Sambil dalam posisi bersila, mereka merebahkan tubuh menenangkan nafas yang sedari tadi memburu.)
Aku tak yakin tanah ini masih kuat menopang tubuh kita. Kini ayah datangkan lagi dua bocah. Aku pikir hanya keluh kesah Memen yang jadi cerita pagi di saat menanak nasi, saat menyeruput pekat kopi.
Candra
Bagaimana kita bilang pada Memen, kalau dua bayi ini dari ayah yang kerap membagi akal, uang dan nafsunya kepada wanita lain. Kau San, yang paling dekat dengan ibu, kau pasti tahu bagaimana melunakkan hatinya!
San
(San bangun dari tidurnya)
Kau mustinya menanyakan padaku, eratkah tanganku merangkul bayi ini? Aku juga perempuan!
San melempar ketimpung itu, tapi Geo, dengan sigap meletakkan lentera dan menggulingkan
tubuhnya, menangkap ketimpung itu. Ketimpung yang menangis....bersama
ketukan tangan Geo.
Geo
San, kenapa kau lakukan itu? tidakkah kau pikir juga, Tali pusar bayi ini sudah tak lekat lagi dengan tubuh ibunya! (sambil berusaha menenangkan sang bayi)
San
Ya...tapi tali pusar mereka pernah saling ikat. Mereka bersumber dari satu tubuh.
Geo
San..!
San
Kakak tak pernah tahu cerita Memen, kakak tak pernah tahu siapa saja nama-nama yang terbakar di kelip api saat aku dan Memen menanak nasi. Memen selalu saja mencekoki aku dengan kesedihannya yang ia tuangkan hanya padaku, padaku kak...bukan kepada yang lain, kenapa? karena kami sama, kami perempuan. Yang paling aku heran, kenapa cerita demi cerita diulang terus oleh Memen. Seolah agar aku tak pernah melupakannya.
Geo
Telan tangismu! Memen datang!
MEMEN IN STAGE
Suasana dibuat tenang. Bahkan menjadi tenang yang sangat, hingga dingin.
Terlihat San mengerjap-ngerjapkan mata, membendung air mata yang hampir
tumpah. Geo memandangnya tak sabar sedangkan Candra menyepuh uban yang
telah memutih dengan lentera ke arah ibunya.
Memen
Sudah lama kutunggu di tungku. Sekedar mendadang kulit agar tak dingin biarpun makin mengkerut. Kalian dari mana? (diam sesaat) Aih...bayi siapa ini?
(terkejut dan heran, senyum mengembang di bibirnya)
San
Haruskah ku jelaskan lagi Memen?
Memen
Apa maksudmu San? Siapa bayi ini..
(senyum itu hilang, berubah menjadi kecurigaan)
San
Memen jangan berlagak tak tahu...kedua bayi ini.....(agak ragu, kemudian memberanikan diri)
kami dapat dari ayah. Bayi ini memen, tidak bersalah. Itu kata ayah.
Terlihat Memen terduduk. Matanya memaparkan cerita. Ia menenggelamkan wajahnya di kamben yang lusuh.
(Lampu panggung meredup).
Sementara di panggung, kertas-kertas yang terbakar muncul dari atas,
berguguran melahap tempat mereka berdiam.
San
Kedua bayi ini ditinggalkan karena harta ayah tlah habis. Panti asuhan adalah pilihan terakhir untuk kedua bayi ini, setelah memen Janten memilih rumah hadiah dari kepala desa itu dan ia kemudian menikah dengannya. Haruskah ia diasuh di Panti, Memen? Itu pertanyaan ayah.
Memen, Ia terdiam. Sosok perempuan yang tak biasa. Tidak juga abnormal. Ia
memiliki payudara yang melebihi jumlah payudara wanita pada umumnya. Empat
buah...menurut para tetua, ini adalah lambang kasih kepada anak. Wanita ini
mampu menyemai biji-biji menjadi kecambah walau di atas karang sekalipun.
Memen
San, bawa kemari bayi itu. Memen akan merawatnya dengan penuh kasih. Akan kubuat sebuah anyunan dari bambu petung terkuat biar tak menderit hingga lelap tidurnya.
(memen merangkul kedua bayi itu dan melekatkan di payudaranya. Memen memainkan ketimpung dengan tarian pengasuh bayi dan tenggelam di ujung panggung)
San
(Menuruti langkah ibunya dan berbisik kepada Geo)
“Aku kecewa, ibu terlalu tegar. Ia pasti akan kurus kering jadinya. Sudah cukup kita kena pemerasan dari Memen Janten dan kepala desa yang sok diraja itu. Walau kakek kita bekas PKI aku tak mau kepala desa itu berulah lagi.
Geo
Jaga sikapmu San, ingat, kau hanya perempuan.
San dengan perasaan tidak keruan melangkah mendahului kakaknya. Hingga
lentera yang ia bawa tak menerangi tubuh kakaknya yang beriring menuju
belakang panggung.
LAMPU BLACK OUT
BABAK II
LAMPU FADE IN
DUA ORANG PEREMPUAN DUDUK DI SEBUAH UNDAK. BERPAKAIAN PENARI DENGAN BALUTAN KAIN SEADANYA. RAMBUT SAN, YANG PANJANG TERURAI, KEMUDIAN GENDING MENYISIRNYA DENGAN JEMARI TANGAN. SEMENTARA TANGAN SAN TETAP MEMAINKAN BUNGA KAMBOJA YANG MELENGKUNG, TERPANGGANG SINAR MENTARI.
San
Gending, aku ingin pintar menari seperti kau. Selama ini aku kebingungan mencari alasan kenapa aku memanjangkan rambutku. Mereka selalu bilang aku penari, padahal untuk menggetarkan jemari saja aku tak bisa.
Gending
Jadi untuk apa kau memanjangkan rambut selama ini?
San
Ya, aku sudah terbiasa berambut panjang. Semua perempuan di keluargaku memelihara rambutnya. Tapi aku harus mencari alasan agar bibiku tak menyuruh yang bukan-bukan lagi. Bibiku sungguh menyebalkan. Ia selalu iri padaku. Ia selalu menyuruhku memotong rambut ini. Ia bilang semua kekisruhan dalam keluargaku disebabkan karena aku tak pernah memotong rambutku dari bayi. Aku tak habis pikir, bibiku yang bagai tabib ini menuduh rambutku adalah beban yang berat, maka harus dipotong pada saat aku memasuki usia 22 tahun dengan sebuah upacara penolak bala. Aku sama sekali tak percaya, rambutku adalah bagian dari tubuhku. Tak mungkin tubuhku menumbuhkan racun, padahal aku sangat merawatnya. Jika ia menganggap rambutku adalah sebuah bala, berarti diriku juga bala dan tak menghendakiku ada.
Gending
(Masih menyisir rambut San dengan kedua tangannya)
Rambutmu sangat indah San...tapi sayang, rambut tidak tumbuh sesuai dengan kehendak pemiliknya. Ayo kita turun.....
San
Maksudmu? aku harus mengikuti saran tabib yang tak jelas juntrungannya itu.
(Gending tak menjawab apa-apa. Suara Gending serupa gamelan, menuntun arah tangan San, tatapan mereka beradu, saling senyum, dan kecipak kaki mereka mengetam debu yang mengecambah di bulir keringat mereka. Tubuh seperti aliran air) Gending, kau belum menjawab pertanyaanku! (dengan pandangan menyelidik, berhenti menari dan melihat bagaimana lihainya Gending menari)
Gending
(Gending hanya tersenyum, sambil menari ia berucap) San, pernah kau melihat daun bambu yang tertiup angin, daun itu suntuk pada satu hembusan angin saja tetapi gerak tubuhnya, melipat udara itu sehingga menghasilkan aroma tubuhnya sendiri. Ketika menari pun, tubuhmu harus mengikuti hembusan selonding dari bibirku. nafasku beraroma cempaka, tapi nafasmu aroma kenanga.
San
(Mulai menari, sementara bibir Gending tetap bersenandung irama tari)
Ya, tari mengalir bagai air, merasa setiap sudut yang dilewatinya. mengecap dan ditawarkan lagi hingga jadi bening, menyegarkan mata. (Menunduk) Tapi, aku tak akan menari di depan orang-orang desa. Aku tak mau dalam hati kecil mereka berteriak “Anak gerwani sedang menari haha.....mari kita nikmati tubuhnya”.
Gending
Ketakutanmu sangat San, cobalah lupakan masa lalu itu.
San
Aku selalu coba lupakan, tetapi ada saja yang mengingatkan. Rah...lelaki itu
(tiba-tiba berhenti menari, terdiam dengan wajah yang tegang)
Gending, apa kaitan cinta dengan alir darah...Ia bilang kenapa aku baru menceritakan asal-usulku. Kenapa perkenalan kami begitu singkat dan tergesa. Sejak itu ia mulai menjejali aku dengan cerita tentang perempuan-perempuan yang pernah ia singgahi. Mereka bagai gaib-gaib dan aku?
Gending
(berhenti menari) Sudahlah....kau jangan membeci mereka sebagai lelaki tetapi sebagai manusia. Kau bisa memaafkan pikiranmu atas kecurigaan itu kan?dan untuk kau ketahui, setiap manusia bisa melakukan hal yang sama.
San
Termasuk aku, kau Gending?
Gending
Ya.
San
Gending, apa yang terjadi? (heran)
Gending
Aku sudah coba mencintai mereka...
(tatapan mata bertumpu di celah mata milik San) Tapi....
San
(Tangan San mengulur selendang milik Gending dan mengajaknya kembali ke undak)
Maaf Gending, apakah benar, yang teman-teman penari bilang itu, bahwa kau tak pernah benar-benar suka pada lelaki.
(Melihat ekspresi wajah Gending ketika ia seakan mendapatkan celah, San pun melanjutkan bicara)
Ya, menurutku itu tidak apa Gending, sudah layak jika kamu telah mencari beberapa kali tetap saja tak menemukan lelaki yang tepat lalu kau kagum pada perempuan. Aku juga sering berpikir seperti itu, ayah dan kakak lelakiku tidak pernah memberiku teladan bagaimana seorang lelaki yang baik itu. Aku jadi ragu menghadapi rumah tangga. Yang aku lihat hanya bayangan keluarga yang penuh dengan perseteruan. Mereka sering sekali mengecam perempuan, apalagi mereka yang melacur. Kenapa jika mereka sesama manusia yang menjunjung pencerahan, tidak menikahi pelacur-pelacur itu?
Gending
Bukan seperti itu San.
(memalingkan tatap ke segala arah, terlihat gugup)
Kau akan mengerti kelak. Yang pasti aku selalu ingin di dekatmu, bukan karena aku membenci lelaki tapi....
(Suara langkah, menyeret tubuh yang tak pernah akan tambun. Gending menghembuskan nafas, ada sesuatu yang tertinggal.)
San
Tapi aku membenci mereka, itulah aku tak akan pernah menikah. Ini untuk mengingatkan betapa aku membenci ayah. Agar ia ingat, bahwa anaknya juga takut diperlakukan seperti bagaimana ia melakukan para wanita sebelumnya. Apakah kau bahagia mendengarnya?
Gending
San? Aku ingin bersamamu..bukan dengan alasan seperti itu.
San
Gending, aku hanya gadis pemecah batu, aku tak bisa membawamu lari, atau membuatkanmu rumah dari kaca.
San dan Gending merapat, tatapan beradu dan jiwa dan tubuh didesak masuk, mereka saling memeluk.
GEO IN STAGE
Geo
(Curiga) Apa yang sedang kalian lakukan...? Kelakuan kalian seperti suami istri saja
LAMPU BLACK OUT
BABAK III
LAMPU FADE IN, MENYINARI UBUN-UBUN YANG TELAH MEMUTIH, TAK ADA SISA-SISA KEGAGAHAN MASA LALU, IA SEPERTI TERLAHIR DENGAN TAKDIR BERTUBUH TAMBUN , TERDUDUK DENGAN PANDANGAN MATA LURUS DAN KOSONG.
Ayah (Rudra)
(berbicara sendiri) Memen Brayut, setiap aku berada di rumah ini, semakin berkarat rasa bersalahku. Kau terlalu sempurna sebagai wanita dengan perasaan sayangmu kepada anak-anakku. Tapi aku terus membohongimu...Aku tak bisa meninggalkannya karena dengan lontar pemikatnya aku akan selalu merindukan tubuhnya. Apakah ini kesadaranku atau hanya alasan, aku tak berani mengakuinya. Sepertinya aku tak akan pernah tua. Tapi sial, tubuhku tunduk pada usia.
Suara derit kursi yang telah tua sesekali terdengar, kursi tempat Ayah (Rudra) menggerak-gerakkan tubuhnya yang gelisah.
GEO IN STAGE
Geo
Semua ini salah Ayah! (Ayah tersentak kaget) Memen dan San tak akan menanggung beban demikian berat, kalau ayah mampu mengendalikan diri. Tapi sekarang lihat, apa yang bisa ayah lakukan, ayah hanya bisa diam, meratap kehilangan. Apakah wanita itu begitu memikat ? Ayah, kau tahu San mencintai wanita, mencintai sejenisnya.
Ayah menghela nafas panjang. Tubuhnya yang tambun goyah oleh lentingan-lentingan nafas yang ingin lari dari keberadaan anaknya. Mukanya merah padam.
Selama ini aku tak sempat bertanya, karena ayah tak pernah membagi waktu untuk kami. Aku tak akan pernah menyalahkan San atas kejadian ini. Ayah, San adalah adikku dan aku menjadi ayah baginya di saat aku sendiri kehilangan ayahku.
MEMEN IN STAGE,
tergopoh-gopoh, merangkul ketimpung yang terjerat di leher untuk mengasuh kedua ketimpung itu.
Memen
Ada apa ini? (Panik, menatap heran Geo dan Suaminya)
Geo
Memen, kenapa Memen hanya diam, tak adakah suaramu, kemarahanmu yang selama dari aku belajar mengucapkan kata ayah dan menunjuk suatu pohon sebagai ayahku kau tumpahkan ke hadapannya? jangan takut kehilangan sandaran Memen, aku telah dewasa, bisa menghidupi kalian semua, San, Candra, Memen. Tapi Memen, kebungkaman Memen untuk ayah dan cerita-cerita Memen tentang ayah untuk San telah mengubah pola pikirnya. Ia ketakukan Memen, ia menginginkan Gending, sahabatnya sebagai pendamping hidup.
Memen, mengurut dada, terduduk di balai-balai yang beralaskan ulatan pandan.
Ia mendekati suaminya, mengelus segala kepenatan yang ada di kepala yang memutih itu. Geo melihatnya dengan gelisah.
Memen
Geo anakku, ketika mencintai, kau telah menetapkan pilihan, pilihan itu selalu menguji cintamu. Kini pun kau sebagai anakku sedang mengujiku. Layakkah aku menjadi ibumu jika aku dulu meninggalkanmu dalam keadaan merah dan layakkah aku jika menyalahkan seseorang ketika semua telah terjadi?
(kepada Rudra) Rudra, Kau dan Memen Janten melahirkan anakmu dalam kebohongan. Aku hanya takut di tubuh mereka akan mengalir darah-darah kebohongan itu. Selama ini diamku ternyata membuatmu kerap menanggalkan kepercayaanku. Sebagai seorang perempuan, maaf, aku kerap mengutuk ketaksetiaanmu dan itu terlimpah pada kedua orang anak yang terbuang ini. Dulu kau pernah mengusirku dengan ingin menukar kesetiaan kepada anak-anakku hanya dengan sebuah lontar pemikat. Lontar tua yang akan rusak dan rapuh. kau bilang lontar itu akan membuatku menjadi wanita yang akan digilai banyak lelaki. Untuk apa? Aku tetap bertahan. Aku mengerti bahwa anak-anakku perlu perlindungan, bukan seorang Memen seperti Janten yang akan dengan mudah menyakiti lembar-lembar yang tak bisa ditandingi oleh lembar-lembar lontar pemikat. Aku memang perempuan bodoh tapi tangis anak-anaku membantuku, menyadarkan aku. Dan sekarang apa jadinya Memen Janten yang kau gilai itu, cintanya sangat mudah ditukar dengan sebuah rumah. Ia tega meninggalkan anak-anaknya demi uang. Tapi ini karma. Ketika aku mengutuknya, aku tahu hatiku penuh dendam dan tak menyadari diriku seorang ibu pada saat itu, yang juga punya anak-anak. Tuhan ingin aku membasuhnya dengan memelihara anak-anak yang telah aku kutuk. Itu berarti aku harus meminumnya sendiri. Tapi Geo, jangan kau tuduh adikmu seperti itu!
Geo
Ibu, aku juga ragu. Tapi jika benar, Memen dapat mencegah seharusnya. Tolong... nasehatilah San, biar ia kembali kepada kita sebagai gadis dan sebagai adikku.
Memen
Mengubah perilaku orang tidak mudah, Ibu tak sanggup. Ia perlu kakak, ayah yang menghargai wanita. Kau Geo, bagaimana tingkahmu kepada perempuan?
Geo hanya terdiam, seperti ayahnya. Cahaya menguat di pusat ubun-ubunnya. Ia tampak tua, cahaya yang terbit di bawah menyorot wajahnya.
LAMPU BLACK OUT
Hanya lampu di bawah yang menyinari wajah Geo yang menunduk. Perlahan lampu meredup dan padam.
BABAK IV
LAMPU FADE IN, TERANG WARNA MENTARI. SUARA TAWAR MENAWAR YANG SEMBRAWUT, HAMPIR SERUPA KATA TAK BERMAKNA. TAMPAK SEORANG PETANI SEDANG MEMIKUL CANGKUL MENUJU TITIK MENTARI, PEREMPUAN DENGAN BALUTAN KEBAYA MENGIKUTINYA SAMBIL MENJINJING RANTANG SEBAGAI BEKAL DI USIA TERIK NANTI.
Bibi
(Berbisi k kepada salah seorang pedagang, tetapi dengan arah mata yang tajam ke Memen)
Ini dia, perempuan yang dimadu oleh suaminya. Ia sungguh bodoh, mau saja mengasuh anak-anak dari istri muda suaminya hanya dengan iming-iming bahwa suaminya sudah becerai, padahal mana buktinya...? tak ada surat cerai sekalipun. Ia tak pernah menuntut. Dasar bodoh....! Apalagi sekarang, ternyata masalah datang bertubi-tubi, anaknya menjadi lesbian, itu tu, perempuan suka sama perempuan. hii...!
(bergidik)
Pedagang I
Kasian memen Brayut.
Bibi
Eh..mba, yang seperti itu tidak usah dikasihani. Mungkin Memen pernah melakukan dosa yang besar kepada suaminya dulu, ya...siapa tahu?
(Arah kedua mata yang besar miliknya memutar. Dandanan yang menor, menguatkan sudut-sudut matanya itu.)
Nah...sekarang begini jadinya, apapun yang dilakukan oleh suaminya, akan dibiarkan saja oleh Memen. Kamu tahu, suami saya juga sering ia goda?
Pedagang I
Ah...yang benar saja, bukannya suami anda yang mengejar-ngejar Memen, tapi Memen menolaknya (tertawa)
Bibi
(marah) E..e...ee..jangan sembarangan bicara kamu ya...! Apa aku kurang cantik dari pada si Memen berpayudara empat itu? Buka matamu...Sekarang mana ada yang bilang wanita bersanggul, berkebaya dan pemecah batu seperti dia dikatakan cantik. Yang ada, wanita yang memakai rok mini, bibir sensual seperti aku ini....Dasar, kamu memang sama saja kampungannya dengan si Memen itu. Ini, aku tidak jadi membeli sayur dari daganganmu ini. Sudah layu-layu dan busuk. Lebih baik aku belanja di Supermarket.
(Mengembalikan sayuran yang tadi sudah ia masukkan ke dalam tas)
Sekarang kembalikan uangku...
Pedagang mengambil uang tadi dari laci di bawah mejanya. (Sedih melihat isi lacinya kosong kembali). Sedangkan Bibi, bergegas pergi, sembari menatap kedatangan Memen dengan geramnya.
BIBI MENUJU KE ARAH PEDAGANG LAIN. Ia tetap mengamati dengan pandangan yang lihai .
Pedagang II
Nak, kalau kamu itu berdagang itu harus manggut-manggut saja kalau pembeli itu bergosip. Bila perlu, iya kan saja. Kita kan berbisnis, yang kita cari uang, uang, ngerti...? Lain kali, kamu jangan begitu lagi, nanti mau makan apa coba? Perempuan tadi kan orang kaya, kamu harus menempatkannya sebagai raja.
Pedagang I
Tapi bu, Memen kan baik, setiap aku bermain ke rumahnya mencari San, ia selalu memberiku ketela rebus. Lagii pula memen memiliki payudara empat, simbol kasih sayang. Eh..Ibu itu juga malah menjelek-jelekkan temanku, San, Ibu, ia kan anak terpintar di kelas, waktu kami masih SMP. Jadi mana mungkin ia berani seperti itu. Tapi apa salahnya seperti itu? Ibu itu bergosip tak tahu aturan!
Pedagang II
Ah...kamu ini, mana ada aturan bergosip. Itu Memen kemari, ladeni saja dulu..ingat..! bela saja yang berbelanja. Ibu mengantar pesanan ini dulu.
PEDAGANG II OUT STAGE
Memen menghampiri pedagang I setelah beberapa kali mengadakan transaksi dengan pedagang lain.
Memen
Nak, Memen beli sayur ini ya!
Pedagang I
Jangan Memen...
Memen
Kenapa nak?
Pedagang I
Kata ibu, kita harus membela pembeli. Tadi ibu itu menjelek-jelekkan Memen, dan melempar sayuran ini. Jadi sayur ini tidak baik untuk Memen. Lagi pula Ibuku tadi berpesan, aku harus membela pembeli, begitu Memen.
Memen
(tertawa) maksud Ibumu bukan seperti itu. Memen sangat memerlukan sayur itu untuk bayi Memen. Ayo, bungkuskan untuk Memen.
(Memen Brayut menyerahkan sayur itu kepada pedagang I. Pedagang I hanya tersenyum, melihat keikhlasan dari Memen.)
Pedagang I
Memen terlihat begitu kurus saat ini.
Memen
Yah..beginilah, makin tua usia, makin mudah terserang penykit. Mari nak, Ibu pulang dulu.
MEMEN OUT STAGE
Bibi,dengan tergesa kembali ke arah pedagang I
Bibi
Nah lihatkan ia begitu kurus, dasar, kau tidak pernah mau percaya dengan apa yang aku katakan. (pedagang I hanya menghela napas)
LAMPU BLACK OUT
BABAK V
LAMPU FADE IN
SUARA-SUARA BATU YANG DIPECAH DENGAN MARTIL BERAT. BEBERAPA WANITA BERPAKAIAN KUMAL TAMPAK SUNTUK DENGAN DEBU YANG BERASAL DARI BATU-BATU YANG MEMERCA ITU. KADANG MATA MEREKA PUN TERKENA PERCIKAN PADAT. TERKADANG PULA TANGAN YANG TELAH MENGERAS ITU TERKENA HANTAMAN YANG HARUS DITAHANKAN PERIHNYA. MEREKA WANITA YANG TAK HANYA DIAM DI DAPUR. MEREKA BEKERJA UNTUK MENGEPULKAN DAPUR MEREKA JUGA. SUASANA YANG SALING MEMBANTU. PARA LELAKI DENGAN TEGAPNYA MENGANGKUT TUMPUKAN-TUMPUKAN BATU DI PUNDAKNYA YANG PERKASA. SEMENTARA ANAK-ANAK DENGAN SIGAP MENURUNKAN BATU ITU DARI PUNDAK AYAHNYA. SESEKALI AYAH MEREKA DENGAN PENUH KASIH SAYANG MENGELUS KEPALA MEREKA. MEREKA TAK PERNAH MENYENTUH BANGKU SEKOLAH,KECUALI ANAK-ANAK MEMEN BRAYUT. UNTUK ANAK-ANAK MEREKA YANG TAK PERNAH DISEKOLAHKAN, SEMAKIN SERING MEREKA BERADA DI WILAYAH PEMECAHAN BATU, SEMAKIN SAYANGLAH KEDUA ORANG TUA MEREKA.
TAPI, SEORANG WANITA HANYA DITEMANI OLEH DUA ORANG ANAK TANPA AYAH. MEREKA MEMEN BRAYUT, SAN, DAN CANDRA. MEREKA SANGAT SUNTUK MEMECAH BATU. SEMENTARA SIANG SANGAT TERIK. MEMEN SEGERA MEMBUKA PERBEKALAN, MENUANGKAN AIR DARI KENDI YANG TERBUAT DARI TANAH LIAT DI GELAS-GELAS YANG TERBUAT DARI BAMBU-BAMBU PETUNG, SISA BAHAN UNTUK MEMBUAT ANYUNAN BAGI SI KECIL. MEMEN TAMPAK MENYAPA BEBERAPA WANITA KARENA IA AKAN MENIKMATI BUNGKUSAN YANG IA SIAPKAN DARI RUMAH SEBAGAI BEKAL UNTUK BEKERJA DI TEMPAT SEPANAS DAN SEKERING INI.
Wanita Pemecah Batu I
Memen, kenapa suamimu tidak pernah ikut memecah batu lagi?
Memen
Ia dirumah. Sejak seminggu yang lalu kurang enak badan.
Wanita pemecah batu II
Lalu anakmu kau titipkan di mana?
Memen
Diasuh si Gending, aku merasa aman jika ia yang menjaganya
Wanita Pemecah Batu III
Eh...Memen, apa kau tidak takut, anak tirimu itu berada dekat-dekat dengan pedofil itu?
San yang sejak tadi diam angkat bicara.
San
Apa maksudmu dia pedofil?
Wanita Pemecah Batu III
Kau marah, apa karena mereka adik tirimu, atau....(tersenyum sinis)
San
Jaga bicaramu
Wanita Pemecah Batu III
Jadi benar apa yang bibimu bilang bahwa kau menyukai perempuan?
San
Ah...apa pedulimu dengan keadaanku, apa kau yang memberiku makan? apa urusanmu jika itu memang benar terjadi, apa kau mau menikahkanku dengan Gending?
Wanita Pemecah Batu III
(Berteriak) Memen, kasar sekali anakmu berbicara padaku , dan engkau hanya membiarkannya saja, Ibu macam apa engkau ini. Pantas saja, berbagai kemaksiatan tumbuh dengan cepat di keluargamu. Asal kau tahu Memen, suamimu itu sama sekali tidak pernah bercerai dengan Memen Janten. Memen Janten yang bercerita padaku. Katanya kau merampas anak-anaknya.
Memen
Aku tak pernah merampas anak-anak itu. Anak-anak itu aku asuh karena mereka akan dibuang di Panti asuhan. Soal putriku, aku bukannya membiarkan saja, Sebagai seorang ibu aku tahu percis duduk persoalannya. Ayo San kita diam di sana.
(San dan Candra mengikuti tempat tumpukan batu yang ditunjuk Memen, sementara setiap pandangan hanya tertuju pada mereka. San sangat tergencet hatinya.)
Wanita pemecah Batu III
(Ia hendak melempar San dengan batu. Tetapi buru-buru teman-teman sekerjanya mengurungkan niatnya)
Dasar....!! kalian tidak boleh bekerja di sini, kalian tidak pantas bekerja dengan kami.
Wanita Pemecah Batu I,II dan Beberapa Lelaki
(salah satu berbicara sambil memegang lengan wanita itu ) Sudahlah kita sama-sama susah, pikirkan sajalah untuk dapat makan. Sudah bisa makan saja seharusnya kita harus bersyukur.
Mereka akhirnya suntuk dengan pikiran masing-masing walaupun martil-martil itu masih menyentak batu-batu. Itu tak mengganggu pula lamunan San, yang hanya menghadapi nasi yang sudah bercampur dengan percikan-percikan batu yang ia pukul ketika kemarahannya meluap tadi.
San
Memen, betapapun batu ini dipukul, seberapapun hancurnya, selebur apapun ia dengan nasi putih ini, ia tetap batu Memen. Tak dapat ia menjadi yang lain, walaupun diberi nama kerikil atau pasir sekalipun. Jika aku memakan nasi ini, aku masih bisa. Aku akan menelannya Memen, tetapi Memen, jika Memen lapar, memen harus memilihnya dulu. Jangan sampai kisahku dengan Gending Memen telan juga, hingga melukaimu.
Memen
San, Ayahmu belum bercerai...lalu aku ini apa, babu..yang hanya pantas mengemban sakit?
San
Memen.., kenapa Memen diam saja oleh perlakuan ayah?
BABAK VI
DUA ORANG PEREMPUAN, SALING MERAPATKAN PUNGGUNG MEREKA. KAKI YANG DILURUSKAN, SAN MENENGADAHKAN KEPALANYA, MENUJU LANGIT.
San
Gending, tubuh Memenku serupa cangkang, ia setia dengan nafas yang terlewat dari tubuhnya, tetapi, saat ia berbagi, tubuh itu meretak dan ia hancur dari dalam. Gending, kau seperti ibuku, aku selalu merindukanmu...
(menanti jawaban dari Gending, tetapi gending tetap melengkungkan tubuhnya memandangi lutut. San berbalik, dan merangkul tubuh Gending. Gending kemudian menengadah, menelan semua yang masih tersisa di tenggorokannya)
Gending
Aku takut....ternyata tak mudah menjadi diri sendiri. Mungkinkah aku harus selalu menari, memikat para lelaki?
San
San sedikit berlari ke depan tubuh Gending, meraih tangannya yang merangkul ketimpung. Gending, kau dan aku adalah perempuan, kau tak perlu jujur dengan semua orang. Kau hanya perlu jujur dengan dirimu sendiri dan aku. Selama ini tak ada yang tahu dan percaya akan hubungan kita, keluargaku sekalipun. (mengelus wajah Gending) Kau cantik Gending.
Gending
San, coba rangkul bayi ini. Ini adikmu yang terkecil....pandang matanya. Lupakanlah dendamu. Tapi jangan dengan mengandaskan dendam, kau surutkan pula cintamu padaku.
San
(San memandang bayi itu. Tampak ia larut dalam senyum bayi itu..Gending, aku dengar nyanyi jengkrik, saat aku melangkahkan kakiku di pematang sawah. Aku selalu menyuluh anak-anak capung yang merangkak di batang padi, ingin mengelupaskan kulit tipisnya kemudian dengan angkuh membentangkan sayap dan hinggap di rumputan yang melengkung. aku juga lihat, Mataku seperti bening air sawah, yang hangat menyapaku.
(Lampu perlahan padam, di siluet nampak tiga orang anak kecil melompat-lompat di pematang sawah. Mereka mempermainkan jengkrik, suara malam yang indah itu. Anak-anak kecil itu tenggelam di titik lentera yang menyelidik, mencari keberadaan mereka.
SOUND OUT Suara San memanggil-manggil Gending dari luar panggung.) bayi atau ketimpung itu sudah tak ada didekapannya.
Gending....Gending.......Gending......Gending.......Gending......Gending..............
SAN IN STAGE, mencari-cari keberadaan Gending
Adakah dari kalian (kepada penonton) terselip Gendingku, katakan aku tak punya lagi sandaran hati. Aku telah biarkan Memenku jadi milik bayi itu. Aku telah biarkan Ayahku menjadi milik Memen Janten. Kau tahu, perceraian mereka adalah kebohongan agar Memen Janten tidak susah-susah membersihkan tahi si bayi. Ia akan jadi muda lagi. Begitu tergila-gilakah ayahku hingga mengorbankan Memenku? Lalu apa lagi sekarang, siapa yang akan direnggut.....?
Suara –Suara
Nikahi Gending, bawa dia lari!
San
Tak semudah itu. Cinta juga perlu uang......
Suara-suara
Kau tetap ingin hidup dalam kemunafikan
San
Siapa yang mengerti kejujuranku, kecuali Gending dan aku..ayo..di mana kau sembunyikan Gending dariku...?
Suara-suara
Aku sembunyikan dia di sini (seseorang muncul dengan menunjuk dada San)
Suara-suara
Aku sembunyikan di sini (seseorang muncul menutup mata San)
Suara-suara
Dia di sini ( seseorang muncul, menunjuk kelamin San)
Orang-orang itu mematung, menutup mata, telinga, mulut, kelamin, dada, dan rambut San.
San
(menelungkup)
Aku tak suka mataku yang lentik, Aku tak suka mulutku yang kau gincui, Aku tak suka kelaminku yang tak tegak, Aku tak suka dadaku yang kau sumpal spons, aku tak suka rambutku yang panjang.
LAMPU BLACK OUT
(Sambil ia terus berbicara, ia pun melepaskan tangan-tangan yang mengurung seluruh tubuhnya. Ia kemudian berjalan ke arah bibir panggung, mengambil senter dan menyinari muka penonton, dan bertanya.)
Kau kah Gending? Kau kah Gendingku?
Penonton berkelit dari cahaya senter yang fokus menyorot wajahnya. San merasakan itu sebagai penolakan. Ia akhirnya memutar senter ke segala arah. Sementara di balik layar, titik-titik bintang warna-warni kembali muncul
Jika kau bukan Gending, kau pasti meludahi aku di pikiranmu. Tapi sayang...pikiranmu terbaluri ludahmu sendiri (berbisik).
LAMPU BLACK OUT
LAMPU FADE IN dan menerangi siluet. Gending terlihat menari, memainkan selendangnya yang tersapu angin. Kebingungan mencermati setiap langkahnya. Ia menyadari San hanya rela dekat dengannya hanya karena ingin memprotes segala yang dilakukan oleh ayahnya kepada Memen. Gending adalah seorang penari..Ia menari mengiringi titik-titik cahaya bintang di siluet. Titik-titik cahaya itu membentuk suatu tubuh yang menari bersamanya. Tubuh itu adalah tubuh lelaki. Bukan San.. Tampak cahaya mendesak tubuh Gending. Gending berusaha melepaskan diri dari kurungan cahaya. Akhirnya setiap garis lekuk tubuhnya terisi oleh titik-titik cahaya itu. Sementara itu, San tetap berlutut di antara cahaya lampu yang padam.. membalikkan senter yang ia pegang. Lampu yang menerangi siluet padam. San pun serta memadamkan senter yang ia pegang.
BABAK VII
SEBUAH UNDAK, TEMPAT SAN DAN GENDING SELALU MENGHABISKAN WAKTU MEREKA UNTUK BELAJAR MENARI. KINI IA MENGAJARKAN TARIAN-TARIAN ITU KEPADA ANAK-ANAK GADIS KECIL. MEREKA MEMBENTANGKAN SELENDANG MEREKA. MENGECIPAKKAN KAKI MEREKA DI LANTAI TANAH TEMPAT KAMBOJA ITU BERGUGURAN.
MEMEN IN STAGE
Memen
(Memen berjalan tergopoh-gopoh) San...San...ayo kemari,..(melambaikan tangannya untuk San) ada berita gembira...Adikmu Candra akan segera menikah....
San
Siapa wanita yang tak beruntung itu Memen?
Memen
Kenapa kau bilang begitu nak?
San
Tentu Memen, ia kan anak ayah.
Memen
Apa hubungannya? Ya sudahlah kamu harus bahagia karena Candra akan menikahi Gending, sahabatmu sendiri. Jadi kalian bisa menjadi sahabat seterusnya.
San
Candra, Gending.....(tak percaya)
Memen
Ayoh...ajak Gending kemari, apa ia tidak cerita, ia akan menikah..(Memen kemudian melambaikan tangan kepada Gending, Gending pun menuju tempat Memen dan San berdiri. Dengan wajah gugup dan tangan gemetar, Gending mencoba memandang San yang geram) San, sehabis kau dan Gending menari, bawakan rantang ini ke tempat pecah batu. Biarkan rantang untuk Candra dibawakan Gending. Ibu pulang dulu....
MEMEN OUT STAGE
San
Gending, aku telah membuang dendamku, tak mengikis apapun, tak mengambil apapun. Tetapi kenapa kau meninggalkanku
Gending
San, kau belum membuang dendam itu...Kau bilang Candra seperti ayahnya. Kau menyakitiku. Setelah apa yang kualami, bisakah percayaku akan dekatmu padaku kujadikan alasan mengobati jiwaku, tubuhku. (membenamkan wajahnya)
San
Kau pembohong, jangan mencari alasan, Gending, katakan saja kau tak pernah mencintaiku.
Gending
Tidak San, kamu tak mengerti
San
Apa yang harus kumengerti. Gending, perempuan yang selalu aku harapkan, impikan, akan menikah dengan adikku, tetapi tetap saja ia menyangkal bahwa perempuan itu mencintai adikku. Gending, lupakan saja kalau kita pernah bersama, lupakan saja kau terikat tatap dengangku. Pergilah Gending..., Terik kian memekat, Candra pasti sudah lapar, sebagai calon istri yang baik, kau harus mendampinginya kapanpun.
Gending
San, kau begitu rapuh, dan aku tak ingin kehilanganmu apa yang musti ku lakukan?
GENDING OUT STAGE, Ia berlari membawa rantang yang dititipkan ibunya.
LAMPU BLACK OUT
BABAK VIII
GENDING BERJALAN PERLAHAN MENUJU TEMPAT PARA PEMECAH BATU. TERLIHAT CANDRA DENGAN OTOT-OTOT YANG MENYEMBUL MELIUKKAN KERINGAT YANG MENGUCUR DI TUBUHNYA. TAPI GENDING MELANGKAH KE ARAHNYA DENGAN WAJAH KESAL.
Gending
Ini, Memen menitipkan padamu (dengan kasar)
Candra
Ho...engkau Gending, hilang penatku ketika gadis cantik sepertimu menghampiriku.
Gending
Aku ke sini bukan atas kehendakku, begitu pula ketika kau memperkosaku. Perlu kau tahu Candra, aku sama sekali tidak mencintaimu.
Candra
Lalu, siapa? San? Kakakku? benarkah kau wanita yang tidak normal. Ha..ha..
Tahukah kau Gending, aku berniat menyembuhkan kalian berdua. Mulia sekali kan apa yang aku lakukan untukmu dan untuk kakakku? (tersenyum mengejek)
Gending
Apa? Mulia, mulia katamu, setelah apa yang kau lakukan padaku. Ingat aku akan menikah denganmu karena kau menanamkan benih di tubuhku. Karena engkau memperkosaku Candra. Yah...aku memang mencintai San.
Candra
Candra menjambak rambut Gending. Menetakkan martil pada batu-batu yang berserakan.
Kau harus tahu Gending, kau calon istriku. Ingat itu..!!
Gending dalam keadaan terjambak meludahi wajah Candra. Tetapi Candra tetap saja tertawa...
Gending
Lepaskan aku...Candra (mengancam)
Candra
Apa yang bisa kau perbuat. Para pemecah batu tak ada, siapa lagi yang bisa menolongmu.
Gending berteriak-teriak.
SAN IN STAGE
San
Candra lepaskan Gending!
Candra
O...Kak San rupanya, sudah dengar percakapan kami tentang masa depan ?
San
Masa depan? Masa depan yang terkubur di tempat pemecah batu seperti ini.
Kau memperlakukan perempuan seperti itu. Apakah aku bisa membayangkan masa depanmu?
(Melepaskan tangan Candra yang merenggut tubuh Gending, Gending berlindung di belakang tubuh San)
Candra
(Tertawa) Tapi di dalam rahimnya ada bayiku kak? San, kau tak berhak atasnya.
San
San mundur peralahan, menatap Gending, mencoba mencari pembenaran.
Gending
(Mengangguk, tapi segera menggelengkan kepalanya).
San, adikmu memperkosaku, ia memperkosaku....
(menangis)
San
Gending....(San menatap kosong)
Candra
San, kau harus menerima kenyataan. (tertawa mengejek)
San
Gending, aku tak ingin tubuhmu serupa cangkang. Kau tahu aku akan selalu berada dekatmu. Eramilah bayi yang masih segumpal darah itu. Kelak aku akan membuatkan rumah kaca untuknya, bersama adik-adikku. Kutanam segala bunga untuk mengingatkan betapa kau...ibu seperti Memen. Memen dengan payudaranya yang menggantung untuk menghidupi nyawa dan tubuh. Kau wanita yang tak tergantung dengan laki-laki bukan? Aku yakin kau bisa menghidupi anakmu, jangan menyiksa diri dengan menikahi adikku yang telah mencampakan kehormatanmu.
TAMAT
0 komentar:
Poskan Komentar