IGA. Komang Williani
Kata-kata menyembunyikan senyum, tapi langkahmu telah menyembunyikan kata-kata
Kau dekap tas ungu bermotif garis. Tak semestinya cuaca begitu basah dan dingin. Padahal terik baru saja menetas dari motor berkenalpot gemuk di kiri jalan. Wajahmu yang mungil menunduk. Begitu juga hidung mungilmu yang mencuat. Kau menyusuri jalan lebar dengan tergesa. Jas kuningmu tanpa ragu meneguk semua warna hujan di matamu yang samar. Seperti kaca mobil yang dihinggapi bulat air hujan. Ingatan yang kabur dan samar. Kini, ia sampai di tembok kapur tempat hujan tak sederas tadi.
Mungkin tembok kapur itu lebih banyak menyerap air sehingga cuaca lembab merembes ke matamu. Ada titik air yang jatuh ketika hujan perlahan menyelinap di sela ujung mata. Ada ketakutan sesuatu yang tersimpan lama dalam sekejap hambur dari kenangan. Akan tetapi, seorang penjual jam di tembok kapur itu tak peduli. Ia pikir ia punya banyak waktu. Maka ia pasang tinggi-tinggi, jam-jam indah di temboknya. Ketika ada lumut yang menyusup, ia mengusapnya selama berjam-jam karena ia yakin waktu yang ia miliki sangat panjang, dan kini tergantung di tembok.
Ada juga yang tak peduli dengan penjual jam itu karena para pejalan kaki masih merasakan aspal yang basah. Di depan pohon beringin berambut gimbal mereka tertegun. Menatap matamu yang gigil. Tapi kau tak tahu. Kau tetap beranjak menuju toko buku tua, di depan tembok kapur itu. Kau mencari sesuatu di tumpukan buku tua. Di bakal tunas yang gagal menumbuh kau menemukan sesuatu. Kau menemukan sebatang pohon pada gerusan kayu-kayu. Secarik kertas bergambar. Sebuah cerita heroik tentang mahluk mitologi. Seekor singa bersayap emas yang melindungi kota kecil. Agar hujan yang turun, cukup untuk ditampung di tangan-tangan yang menengadah, agar cahaya matahari tak menguap ketika pagi datang.
Tentu saja cahaya akan tertahan di rumput karena ini adalah cerita heroik.
Kau mendekap buku itu, dari terpaan pertanyaan penjual buku yang mungkin bertanya. “Kenapa nak, kau suka dengan buku itu.?” Kau bergegas, tak perlu alasan lagi untuk memberi kata-kata bagi buku itu untuk berucap kepada sebuah kota. Selamat ulang tahun singaku.
Dan senyuman telah menyembunyikan sebagian kata.
0 komentar:
Poskan Komentar