BISNIS ONLINEKU...GABUNG Ya....

Kamis, 13 Mei 2010

Lekuk Jalan Terakhir

Pulihkanlah lelahmu dengan menyanyi karena sepanjang jalan ada lekuk-lekuk yang memabukkan. Puaskanlah meracau seperti punai yang mengikuti reranting menipis. Tak usah kau berhayal hinggap pula di sana, karena ranting masih belia. Sisakanlah sajak tentang jalan yang menikung karena telah ada secakup kembang berserak dan asap dupa yang diacak angin. Di pinggir jalan akan kau lihat bunga liar tumbuh semaunya, memekarkan kelopak dan melambaikan daun kepada musafir. Tak ada tumpangan untuk serbuk sari. Akan tetapi, tanpa diminta, angin telah menaburkannya di rimba dan pinggir danau.
Sesekali kau akan lihat, jika matamu awas. Kera-kera kecil dalam ayunan induknya menghirup air danau yang dingin. Matanya yang bulat bening telah cicipi warna bunga dan buah-buah hutan. Bermimpi di antara ranting tentang suara-suara binatang hutan yang menelusuri semak dengan lentera di tubuhnya. Mencari betina yang meranjut sarang, memintal perangkap untuk serangga-serangga bersayap kertas. Pagi jadikan benang laba-laba berkilau ditimpa sinar matahari. Jaring tipis nyisakan embun pagi yang bergelayut lemah. Musafir berhenti berpeluh. Ia singgah memberikan buah-buah dari kota dan biji-biji jagung untuk anak kera di pinggir jalan. Berbaris di batu-batu pinggir hutan, menggapai-gapai jemarimu.
Engkau yang dimabuk rindu, memberikan setangkai bunga untuk anak kera. Segera ditaburkan menjadi benih bunga di pinggir jalan. Agar ketika kau sampai pada lekuk terakhir, kau tetap ingat, tentang kera kecil di pinggir jalan yang melekuk-lekuk itu. Jalan yang memabukkan tempat angin mengacak rambutmu, hingga teguhmu seperti pohon-pohon yang melindungi danau. Seperti lumut yang mendekap cuaca karena dingin pohon-pohon Wanagiri.
IGA. Km. Williani

0 komentar:

Poskan Komentar