BISNIS ONLINEKU...GABUNG Ya....

Sabtu, 08 Mei 2010

Laut yang Terlalu Sunyi

Adakah yang mengusik sunyimu. Dalam laut yang datar, engkau datang dalam riak gelombang yang susut. Aku tak dapat mencarimu, karena tak ada jejak yang kau ukir di pasir terjauh. Kau di mana, ini adalah karang-karang yang mencatat waktu. Kepergian yang bermula dan mengukir bukit-bukit menjadi gapura-gapura.
Aku telah kehilangan lautku karena bukit ini telah menatapmu dengan tajam. Tatapan tajam yang kehilangan. Lautku tak bersuara garang lagi. Apakah ia bermeditasi dalam palung-palung jiwanya, dan ikan-ikan yang mengapung memberitakan amuknya di kedalaman sana. Ia beringsut, kehilangan kekasih, bukit hijau itu yang tiap saat ia kecup dalam buih-buihnya.
Nelayan-nelayan takut melaut, sementara para cukong tertawa  ketika melihat laut datar-datar saja. Akan tetapi nelayan menjadi gigil oleh tenangnya laut. Ada badai di sana, di hatinya, entah kegeraman apa yang disimpannya. Selama ini ia menyayangi para nelayan yang hidup dari koral-koral dan lumut. Cukong itu tetap tertawa dan menatap laut. Memang tak ada yang bisa dilihat, tak ada yang bisa dikeluarkan ketika kerinduan laut telah menjadi arca yang kepalanya terikat kain merah.
Malam hari, ketika laut menjadi tenang yang sangat. Ketenangan itulah yang membuat nelayan-nelayan gigil. Suara seruling yang sayup perlahan tenggelam. Gemerisik pepohonan telah dilumat dalam dekapannya yang hangat. Angin laut yang asin telah berbaur dalam makanan kemarin yang mengapung. Piring-piring telah tersapu bersih. Hanya titik-titik lentera kecil dari nelayan-nelayan yang menyelamatkan segenggam tanah bukit itu. Segenggam tanah yang sangat dirindukan oleh laut. Karena dulu, hulu masih mengalirkan riciknya, pertemuan kehangatan air bukit dan garam laut. Mereka bermain teka-teki, pada rimbun pohon manakah, matahari bersembunyi, lalu menjawablah bukit itu dengan gemerisik daun dan bebatuannya. Kadang laut juga mampu menjawabnya. Ketika senja mereka menerka lagi, di antara lumba-lumba yang berloncatan. Lengkung karet itu telah tenggelam.
Mungkin inilah pertemuan, ketika laut begitu rindu dengan bukit yang tenggelam oleh kaca-kaca rumah yang membuat kilau laut menjadi pupus. Malam ini mereka telah berpeluk dalam haru. Memendamnya menjadi bukit di bawah laut. Menyemikan koral-koral dan ikan-ikan warna-warni telah tumbuh menjadi ikan duyung yang berumah di negeri dongeng.Menjadi cerita, hanya cerita.

IGA. Km. Wiliani

0 komentar:

Poskan Komentar