Tembok lusuh di pinggir lampu merah, tak pernah berkata berhenti untuk kendaraan yang lalu lalang di jalan beraspal hitam. Tapi suntuk aku berhenti juga karena kedip lampu merah itu memberi isyarat. Aku ingin gegas, melewati tugu jam berwarna putih menyilaukan itu. Empat jam dinding yang terpajang menunjuk arah yang berbeda. Aku galau apakah setiap arah punya waktu yang berbeda. Akhirnya aku pergi juga ke arah hujan yang meluluhkan sungai-sungai ke laut. Ke arah rumahku..Aku kembali lagi, mengulang ritual itu. Tersesat di lampu merah. Menghindari terik, menghitung detik untuk segera pergi dari perhentian itu. Lalu pulang dan pergi lagi. Aku melihat kembali tugu jam itu, mungkin seorang tukang telah memperbaikinya. Aku tak melihatnya, tapi jam itu kini telah berdetik sempurna. Kini jam itu menunjuk ke arah yang sama. Jadi, perempatan ini telah mengecap cuaca yang sama pikirku. Tak ada lagi hujan ke arah rumahku, atau arah utara menuju pantai yang terik. Mesin kendaraanku berbunyi, tapi ada suara yang berusaha menyelinap di telingaku. Suara gending dari seberang jalan. Di balik tembok lusuh. Suara anak-anak kecil yang berlarian, bercanda di pinggir panggung kecil. Tubuh mereka memakai kain yang berwarna-warni. Ada beberapa yang mengibaskan kipas prada, mengikuti gerak tari dengan terbata-bata. Rupanya itu tarian yang aku pelajari waktu masih belia. Ya, di sana, tempat yang sama, Gedung Sasana budaya, tempatku dulu belajar menghitung gerak tubuhku dengan suara gamelan ndang nding ndong...Ternyata aku melewatinya begitu saja. Tak paham akan isyarat lampu merah, untuk berhenti sejenak. Melihat ke seberang jalan, meraba tembok lusuh yang telah mengeram masa kecilku hingga aku bisa berada di perhentian ini. Dan musim yang aku lewati tak pernah menghilangkan lakon-lakon wayang yang terpahat di dinding. Lumut hijau tua itu telah mendekapnnya dari serangan dingin dan terik panas. Ayolah kembali...bujuk klakson kendaraan di belakangku. Tapi kini aku tak gegas lagi. Suntuk dalam perhentianku, membiarkan pikiranku meraba lekuk pahatan di tembok lusuh. Tembok yang mengitari museum tua tempat gending diasuh, tempat anak-anak mengenal kibasan kipas ketika menari truna jaya, dan tempat lontar-lontar yang akan mengeram cerita mereka. Tentang seseorang yang berusaha mengingat kembali arah pulang dan menemukan rumah jiwa di balik tembok lusuh itu.
IGA. Komang Williani
0 komentar:
Poskan Komentar